ESDM: Freeport Belum Penuhi Syarat Lakukan Ekspor

Ini Enam Rekomendasi ESDM pada Freeport

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan PT Freeport Indonesia belum memenuhi persyaratan minimum guna mendapatkan perpanjangan izin ekspor konsentrat. “Rekomendasi perpanjangan izin ekspor belum kami berikan. (Dari hasil evaluasi) persyaratannya belum memenuhi,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot di Jakarta.

Bambang menuturkan, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) Freeport belum mencapai kemajuan minimum sebesar 60 persen. Persyaratan itu tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2014 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan Mineral ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Pemurnian. Peraturan itu menyebutkan rekomendasi perpanjangan diberikan apabila pembangunan smelter mencapai 60 persen dari perencanaan maupun penyerapan dana dalam kurun enam bulan terakhir.

Dia mengungkapkan salah satu kendala yang dihadapi Freeport terkait pembayaran sewa lahan smelter sebesar USD 150 juta. “Mereka baru bayar sebagian (lahan). Tapi masih ada beberapa hal lain yang belum dipenuhi,” ujarnya.

Pemerintah memang memberi izin ekspor konsentrat selama enam bulan dan bisa diperpanjang selama enam bulan berikutnya. Pemberian izin per enam bulan itu bertujuan agar pembangunan smelter dapat berjalan tepat waktu. Pasalnya pemerintah memberi batas waktu izin ekspor konsentrat hingga 2017. Pasca 2017 hanya mineral hasil pemurnian saja yang diizinkan ekspor. Sedangkan izin ekspor Freeport berakhir pada 25 Juli nanti. (bst)