Erick Thohir, Sang Bos Baru Inter Milan

Erick Thohir, Sang Bos Baru Inter MilanSenyum mengembang masih menghiasi hari-hari Erick Thohir, bos baru Inter Milan asal Jakarta. Di era kepemimpinannya yang baru menginjak 1 bulan ini, Erick akhirnya melihat klubnya menang pada Minggu (22/12/2013). Datang langsung ke Stadion Giuseppe Meazza, dia ikut merayakan kemenangan Inter atas klub tetangga, AC Milan. Inter Milan menang 1-0 berkat gol tunggal Rodrigo Palacio.

Dari Indonesia ke Italia. Pengusaha berusia 43 tahun itu resmi membeli 70 persen saham klub Inter Milan melalui konsorsium International Sports Capital. Bersama dua rekan pengusaha Indonesia lain, Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo, nilai pembeliannya mencapai 350 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 triliun.

Usai membeli Inter, Erick kemudian dipercaya sebagai Presiden Inter Milan menggantikan Massimo Moratti. Sedangkan Moratti ditunjuk sebagai Presiden Kehormatan Inter, setelah memimpin selama 18 tahun.

Kini, semua mata tertuju pada Erick. Menurut Gazetta dello Sport, Erick sedang gencar mengincar  Ezequiel Lavezzi  untuk memperkuat timnya. Melalui sahabatnya, Presiden Paris Saint-Germain (PSG) Nasser Al-Khelaifi, keduanya berdiskusi Rabu lalu (25/12) seputar  transfer dan kontrak Lavezzi di PSG. Karena sebelumnya, Lavezzi juga tengah dibidik Tottenham Hotspur dan Arsenal.Meskipun begitu, keduanya memang memiliki kesamaan dalam hal bisnis perusahaan di bidang media.

Era Thohir memang baru saja dimulai. Meski sempat diberitakan telah menghabiskan dana cukup besar pada masa-masa awal kepemimpinannya, ia menyatakan akan melakukan perombakan kinerja di kepengurusan Inter Milan. Konglomerat asal Indonesia tersebut bahkan mengungkapkan kebutuhannya akan posisi striker.

Bagaimanapun, ia menyatakan pada Sky Italia bahwa ia percaya pada tim. “Tapi pada beberapa wilayah kami memang membutuhkan penguatan,” tuturnya. Thohir  yang menjadi Interisti sejak masih berusia 10 atau 12 tahun berpendapat, pihaknya masih menggunakan 60 persen dari potensi Inter Milan.

Raja media massa Mahaka Media tersebut ingin agar klub miliknya meniru cara bisnis orang Amerika Serikat. “Di Amerika Serikat, segalanya dipasarkan secara global. Dengan begitu, Inter bisa meraup keuntungan finansial yang berlimpah,” paparnya.

Ia yakin, nama besar Inter dan sejarahnya bisa mencetak banyak uang.

Menurutnya, dengan mengubah model bisnis kami, pihaknya bisa fokus pada bisnis yang inovatif. Ia mencontohkan saat dirinya membangun stasiun televisi di Indonesia. Meskipun terdapat banyak pesaing yang kuat, ia mampu menemukan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. “Hasilnya hari ini kami menjadi yang terbaik,” ucapnya bangga.

Sebelum memiliki Inter Milan, Erick lebih dulu mengakuisisi klub Amerika Serikat DC United. Baru di bulan November lalu, Erick secara resmi diakui sebagai pemilik mayoritas saham I Nerazzurri.