Elpiji 12 Kg Naik, Industri Menengah Kelimpungan

 

Elpiji 12 Kg Naik, Industri Menengah Kelimpungan

Kenaikan elpiji ukuran 12 kilo gram (kg) berdampak pada semua sektor ekonomi. Khususnya bagi industri menengah di Jawa Timur yang mengaku merugi antara 3 hingga 4 persen.

Seperti diakui Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto Indonesia (Sekjen Apkrindo) Wilayah Jawa Timur, Mufid Wahyudi. Pihaknya memprediksikan kenaikan elpiji akan membuat sejumlah industri menengah lesu.

“Kenaikan elpiji ini berbarengan dengan kenaikan listrik, dan rencananya BBM (Bahan Bakar Minyak). Otomatis kami tidak berani jika pada tahun ini harus menaikan harga jual produksi. Karena akan langsung berimbas pada masyarakat,” terang Mufid kepada enciety.co, Kamis (11/9/2014).

Menurut Mufid, tidak ada pilihan selain melakukan efisiensi produksi dengan mengurangi porsi produksi. Pihaknya akan menyesuaikan dengan kerugian ongkos produksi sebesar 3-4 persen.

“Kalau sudah seperti ini, kita diharuskan melakukan modifikasi tanpa mengurangi kualitas produksi kami. Karena kita sangat bergantung pada elpiji 12 kg,” katanya.

Lanjut Mufid, hal ini juga akan mengurangi keuntungan produsen industri menengah. “Pelanggan kan tidak mau tahu. Pokoknya mereka terima bersih tanpa adanya kenaikan harga dan penurunan kualitas produk,” bebernya.

Padahal jika diharuskan untuk beralih ke tabung elpiji ukuran 3 kg, hal ini dirasa oleh Mufid akan percuma saja. Karena jika dihitung-hitung ongkos distribusii dan operasional akan semakin bertambah.

“Tidak bisa kalau migrasi ke elpiji 3 kg. Untuk industri itu berat juga. Mau atau tidak mau, ya harus pakai 12 kg,” akunya.

Meski demikian, Mufid mengaku tidak akan mampu bertahan jika terus mengandalkan efisiensi pada produk. “Tahun ini mungkin kami akan tetap bertahan tanpa menaikan harga. Tahun depan kalau beban produksi terus ditambah dengan kenaikan BBM kami terpaksa harus menaikan juga,” ujarnya.

Dikatakannya efisensi produksi tetap harus ada batasnya. Meski begitu pihaknya belum tahu pasti konkret jumlah kenaikan yang akan terjadi nantinya. “Jangka panjangnya, mau nggak mau, kami akan tetap naikan harga,” ujarnya. (wh)