Ekspresi Masyarakat Lebih Yakin Covid-19 Bisa Segera Teratasi

Ekspresi Masyarakat Lebih Yakin Covid-19 Bisa Segera Teratasi

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Sebuah badan luar negeri melakukan survei yang hasilnya sangat mengejutkan. Di mana, orang Indonesia tidak terlalu takut dengan wabah Corona (Covid-19). Ada sekitar 7 persen orang yang memilih takut. Lalu, di daerah Asia Tenggara angkanya hanya 16 persen atau sekitar dua kali lipat yang juga memilih takut.

“Survei ini dilakukan pada bulan Maret 2020. Artinya, orang Indonesia ini lupa jika daerah kita ini saat ini sudah daerah merah. Terutama di wilayah Jawa Timur, Kota Surabaya. Artinya, kita harus berpikir positif, namun kita harus meningkatkan kewaspadaan kita,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (3/4/2020).

Menurut Kresnayana, ada dua hal yang perlu dicermati masyarakat ketika menyinggung soal meningkatkan kewaspadaan. Pertama, melindungi diri dengan memakai alat-alat pencegah virus seperti masker dan handsanitaiser.

“Selain itu masyarakat juga harus menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Seperti rajin cuci tangan dan lain sebagainya,” terang Bapak Statistika Indonesia itu.

Kedua, saat ini masyarakat telah sadar tetang pentingnya meningkatkan imunitas. Di antaranya dengan mengonsumsi vitamin dan makanan sehat lain.  Kata Kresnayana, saat ini penjualan produk vitamin di pasaran meningkat tajam.

Demand penjualan produk vitamin hari ini meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Nah, kita patut bersyukur, karena saat ini masyarakat sudah sadar pentingnya asupan bagi kesehatan tubuh,” cetus Kresnayana.

Dia mengungkapkan, kesadaran masyarakat melakukan pencegahan terhadap virus Corona mengalami peningkatan. Yaitu dengan cara menaikkan imunitas dengan melakukan berbagai kegiatan serta memilih asupan makanan yang dikonsumsi.

“Beberapa hari terakhir, di kompleks rumah saya ini banyak kelihatan orang berolah raga di pagi hari. Lalu dilanjutkan dengan berjemur,” tegasnya.

Lalu, bagaiaman dengan jalanan Kota Surabaya sudah mulai padat? Padahal, saat ini Surabaya masih dalam tahapan social distancing (pembatasan sosial) yang dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, Kresnayana menjelaskan, jika ada beberapa versi siklus virus Covid-19. Pertama, ada 5 minggu situasi siaga, lalu ada 7 minggu.

“Namun, ada juga ahli yang menyebut situasi siaga ini harus dilakukan selama 12 minggu hingga mencapai batas normal. Sedangkan di Kota Wuhan, tempat awal ditemukannya virus ini, siklus keadaan siaganya 18 minggu sejak awal bulan Januari 2020,” paparnya.

Di sisi lain, terang Kresnayana, masyarakat Indonesia memiliki ekspresi lebih tinggi jika problem virus Covid-19 bisa segera terselesaikan. Jika dibandingkan wilayah lain, masyarakat indonesia lebih tenang untuk menghadapi problem ini. Artinya, tingkat kecemasan lebih rendah dengan negara-negara lain.

“Selama kurang lebih dua hari terakhir ini, khususnya di Jawa Timur, angka penderita Covid-19 tidak bergerak. Artinya, self control masyarakat semakin meningkat. Tampaknya, penyebaran penyemprotan disinfektan yang dilakukan pemerintah ini membuahkan hasil. Rupanya dengan tingkat imunitas yang relatif stabil, proses penyembuhan dari pasien terjangkit virus Covid-19 ini jadi makin cepat,” pungkas Kresnayana. (wh)