Eksportir Jatim Keluhkan Mahalnya Biaya Logistik

Eksportir Jatim Keluhkan Mahalnya Biaya Logistik

Mantan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan melakukan silaturahmi dengan sejumlah pengusaha di Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu (12/2/2014) sore. Kunjungan singkat ke kantor DPC Angkutan Khusus Organda (Organda) Tanjung Perak itu menemui sejumlah ketua asosiasi pengusaha.

Dalam kunjungan singkat itu, Gita menyempatkan diri melakukan diskusi dengan sejumlah ketua asosiasi, seperti DPC Indonesia National Shipowner Association (INSA) Surabaya, DPD Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), DPD Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI), dan DPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur.

Dialog singkat itu banyak mengangkat isu tentang mahalnya pengiriman biaya logistik antar pulau, tingginya spread (selisih) antara bunga bank yang memberatkan pengusaha, ketergantungan impor, hingga indeks perdagangan nasional.

Seperti disampaikan Ketua DPD GPEI Isdarmawan Asrikan yang menyebut selisih bunga yang harus ditanggung pengusaha cukup besar. “Saat ini bunga bank nasional tidak berpihak kepada pengusaha. Akibatnya banyak pengusaha yang mendapat iming-iming dari bank asing,” katanya.

Dia juga menyoroti ketergantungan impor bahan baku dari Selandia Baru, Kanada, China, dan negara kawasan Asia lainnya. “Saya memberi contoh, impor kayu kita mencapai 200 ton per tahun. Padahal kita memiliki lahan untuk pengembangan kayu yang bisa untuk support bahan baku industri,” lanjutnya.

Gita Wiryawan mengakui perlu adanya pembangunan infrastruktur tambahan untuk menekan pengirimandan biaya logistik. “Infrastruktur yang ada saat ini memang masih minim, dan hal itu yang menyebabkan tingginya biaya logistik,” jelasnya.

Demikian juga dengan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak masih tinggi. Disatu sisi ketergantungan impor migas menyebabkan defisit hingga USD 12 miliar.

“Penggunaan bahan bakar alternatif bisa menekan ketergantungan BBM sangat besar. Kita harus bisa mengeksploitasi sumur-sumur,” tutupnya.(wh)