Ekspor Pertanian Jatim Baru Sumbang 8 Persen

Ekspor Pertanian Jatim Baru Sumbang 8 Persen

 

Impor Jatim sebesar 88,2 persen didominasi sektor industri. Sementara perolehan sektor pertanian masih 8 persen dari total ekspor. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan sejumlah pihak karena dianggap timpang.

“Kita perlu memperluas ekspor dari sektor pertanian. Masyarakat kita kan, sudah terbiasa,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Jatim Isdarmawan Asrikan.

Ia menyebutkan potensi ekspor mulai karet, kokoa, hortikultura, hingga rempah-rempah sangat besar. Permintaan furnitur dari negara-negara maju, seperti Amerika Serikat juga tinggi. Namun, problem suplai bahan baku masih dialami. Juga ekspor bidang perikanan seperti udang.

“Ekspor beberapa sektor tahun lalu mengalami kenaikan. Ikan dan udang menyumbang 10 persen, alas kaki 20,6 persen, lalu karet 1,6persen,” papar dia.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengakui, angka ekspor pertanian Jatim dulu pernah menyentuh 20 persen. Sayangnya, sekarang justru didominasi manufaktur yang komponen impornya tinggi.

“Kalau ekspor pertanian ditingkatkan jadi 10 persen, nett ekspor kita masih tinggi. Sebab, sektor pertanian murni hasil alam dan budidaya,” terang dosen Statistik ITS Surabaya ini.

Kresnayana lantas menyatakan, di banyak negara, permintaan komoditi pertanian dari Indonesia cukup tinggi. Ia mencontohkan rempah-rempah, yang menjadi salah satu primadona.

“Peluang permintaan dari China, India, dan Arab tinggi. Kita punya semua di sini. Mulai jahe, kunir temulawak, kencur, sampai yang ada kaitannya dengan herbal,” urainya. Hortikultura meliputi buah-buahan, sayur-sayuran, juga menjanjikan.

Ia lalu menggambarkan, Jatim masih punya peluang sangat besar bila mau mendayagunakan lahan yang ada. “Ada satu juta hektar lahan Jatim yang tanahnya terlantar. Itu bisa dimanfaatkan. Pemerintah jangan hanya sibuk untuk urusan tanaman pangan. Harus ada program untuk hortikultura,” beber Kresnayana.

Isdarmawan menambahkan, tumbuhnya ekspor pertanian ialah kuncinya pada support pemerintah. Masyarakat harus dipandu untuk memperoleh gambaran, komoditi mana saja yang bisa ditanam,” tegasnya.(wh)