Ekspor Kopi Indonesia Naik 25 Persen

Ekspor Kopi Indonesia Naik 25 Persen

Industri kopi Indonesia saat ini  masih cukup stabil dari sisi penyumbang devisa ekspor non migas. Itu bisa dilihat dari nilai transaksi ekspor sepanjang 2013. Tahun lalu, ekspor kopi secara nasional mencapai 530 ribu ton dengan nilai USD 1,4 miliar.

“Untuk ekspor mengalami kenaikan sebesar 25 persen, sedangkan transaksinya tumbuh sekitar 10 persen. Sementara tahun ini diperkirakan ekspor naik hingga 575 ribu ton dengan perkiraan transaksi mencapai USD 1,6 miliar,” ujar Ketua Umum Gabungan Eksporter Kopi Indonesia (GAEKI) Hutama Sugandhi,” Jumat (10/1/2014)

Ia lalu mengungkapkan, kebutuhan kredit ini untuk dua sektor, on farm (petani) dan off farm (industri). “Untuk sektor on farm langsung kepada petani yang membutuhkan sentuhan dan penyuluhan, agar tidak dikerjakan secara tradisional,” paparnya.

Hutama menyebut contoh kopi Arabica Bali. Ketika ditangani secara tradisional harga per kilogram mencapai Rp 20.000. “Ketika ditangani secara profesional, kopi Arabica Bali bisa tembus Rp 35.000. “Artinya ada nilai tambah bila dikerjakan secara profesional,” ungkapnya.

Terkait tingginya ekspor kopi Indonesia ke mancanegara, GAEKI memandang perlu mendapat kucuran kredit dengan skim yang sesuai. Ini untuk meningkatkan daya saing pasar kopi internasional.

Ia menuturkan, Indonesia memiliki lima dari sepuluh komoditi terbaik dunia dari Indonesia.Selain itu, kemudahan kredit ini juga diharapkan bisa meningkatkan produktivitas kopi secara nasional.

“Bila melihat produktivitasnya, kita masih rendah. Dari total 1,1 juta hektar lahan hektar baru bisa menghasilkan 700 kg/ hektar. Idealnya kita harus menghasilkan 1,5 ton per hektar,” ungkapnya.

Dia menyebut Vietnam yang memiliki lahan 500.000 hektar, tapi mampu menghasilkan 2-3 ton per hektar. Hal ini menunjukkan persentase produktivtas dengan Vietnam masih kalah.

Keluhan yang dirasakan GAEKI saat ini adalah kredit untuk sektor agrobis masih disamakan dengan sektor lainnya. “Susah mendapatkan kredit khusus agobis dengan bunga dan skim kompetitif. Kita masih disejajarkan sektor komersial lainnya,” keluh pria yang juga direktur utama PT Aneka Kopi itu.

GAEKI menyebut kebutuhan kredit untuk sektor on farm membutuhkan Rp 10 juta per hektar. Bila tanah di Indonesia mencapai 1,1 juta hektar setidaknya membutuhkan kredit mencapai Rp 11 triliun.

“Tetapi tidak harus semuanya mendapat kredit. Terpenting untuk kopi dengan varietas unggul saja,” tegasnya. (wh)