Ekspor Kopi Jatim Tembus 62.000 Ton

Ekspor Kopi Jatim Tembus 62.000 Ton

Tren konsumsi kopi dunia maupun Indonesia terus meningkat. Minuman segala kalangan tersebut mulai menjadi bagian dari lifestyle dan kesehatan. Konsumsi dunia meningkat 3 persen, sementara konsumsi kopi Indonesia 10 persen.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Ichwan Nursidik, mengatakan Produksi Domestik Bruto suatu negara yang meningkat akan membuat gerai kopi subur.  “Indonesia mulai mengalami fenomena ini. China juga begitu, meskipun budaya mereka bukan minum kopi, tetapi teh,” paparnya.

Ichwan menuturkan, semakin tinggi pendapatan suatu negara, konsumsi kopi meningkat. Itu terjadi di Amerika Serikat, Jerman, dan Italia. Tak pelak, ekspor kopi Indonesia kian laris ke negara-negara tersebut. Ekspor kopi nasional tahun lalu mencapai 500.000 ton atau US$ 1,4 juta, terbanyak ke Amerika Serikat, Taiwan, Hongkong, Korea, dan Jepang.

Potensi Jatim di ekspor kopi tak kalah menggembirakan. Per November 2013, ekspor kopi Jatim mencapai 62.000 ton, setara dengan USD142.000. “Kira-kira akhir tahun bisa menyentuh angka 68.000 ton. Sedangkan nilai produksi Jatim 56.000 ton,” kata Ichwan.

Meski konsumsi kopi meningkat, produksi nasional tak mengalami perkembangan berarti. Ichwan menyebut, dari 700.000 ton produksi kopi tahun lalu, 70-80 persennya diekspor. Praktis, Indonesia harus mengimpor untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sebab, konsumsi kopi Indonesia 1kg/kapita per orang per tahun 2013.

“Ini jelas meningkat dibandingkan 5 tahun sebelumnya yang hanya 0,6 kg/kapita per orang. Akhirnya untuk keperluan dalam negeri, harus impor,” tuturnya.

Kualitas kopi Indonesia yang baik memberikan dampak positif, sekaligus negatif. Margin kekurangan untuk kebutuhan regional akhirnya didatangkan dari Brazil, Kolumbia, dan Vietnam. “Dari Brazil dan Kolumbia sekitar 5.000 ton, sedangkan dari Vietnam 55.000 ton,” ulasnya.

Produsen lokal kopi three-in-one pun menyumbang pemenuhan kekurangan tersebut. “Penyerapan produksi kopi atau kebutuhan bahan baku untuk konsumsi domestik kopi bubuk sebesar 30-40rb ton per tahun. Sebagian besar mendatangkan dari Sumatera, Bali, dan Flores,” ujarnya.

Ichwan menambahkan, pengusaha Jatim memiliki reputasi yang amat baik di kalangan eksportir nasional. Sebab, meskipun Lampung, Bengkulu, dan Palembang merupakan penyumbang 1/3 ekspor kopi nasional, kopi-kopi tersebut dipercayakan pengolahannya ke Jatim.

“Kami menomorsatukan kualitas. Dibersihkn kotoran-kotorannya, dari kerikil, ranting-ranting, kopi yang pecah, dan kadar airnya diatur. Sampai di sini pun, kopi dikeringkan ulang,” ungkapnya.

Namun dari 1,2 juta hektar lahan kopi Indonesia, Jatim termasuk sudah terlalu padat, sekitar 96.000 hektar Jatim.  “Jatim sudah cukup padat. Sehingga kemarin Pemerintah Provinsi memiliki rencana pengembangan kopi di jalur lintas selatan Jatim,” katanya.

Kebijakan program pengembangan komoditas kopi dan kakao di kawasan jalur lintas selatan tersebut digagas oleh Pemprov Jatim bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, serta Badan Riset Nasional.

Ichwan mengungkapkan, kalangan eksportir mengharapkan peningkatan stimulus pemerintah yang menurutnya masih kurang. “Idealnya adalah penyuluhan tingkat petani untuk pengenalan cara budidaya baik,” kataya. Ia menilai, Pemprov Jatim cenderung concern ke tebu, karena mungkin profitnya lebih besar.(wh)