Ekspor Kopi dan Kakao Paling Terguncang

Ekspor Kopi dan Kakao Paling Terguncang

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/2/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Pada tahun 2016 lalu, pertumbuhan ekspor non migas nasional mengalami kenaikan sekitar 8 persen. Total pemasukan sekitar Rp 17,9 miliar. Jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 16,05 miliar, angka tersebut mengalami kenaikan sangat signifikan.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan, menjelaskan dari angka tersebut, bidang komoditas perhiasan dan permata masih menduduki peringkat pertama dengan menyumbang 23 persen. Disusul komoditas lemak dan nabati, olahan kayu dan furniture, lalu perikanan dan perkebunan.

“Sementara ekspor hasil perkembunan masih didominasi komoditas kopi dan kakao. Menurut dia, Indonesia dikenal dengan surganya kopi. Ada 10 jenis kopi arabika di dunia dan enam jenis di antaranya di Indonesia,” katanya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/2/2017).

Di satu sisi, pada tahun 2016 lalu, Jawa Timur mampu menghasilkan sekitar 70 ribu ton kopi. Namun, untuk kebutuhan konsumsi industri membutuhkan 200 ribu ton kopi dalam setahun.

“Untuk mencukupi permintaan pasar yang tinggi itu kita harus mengambil kekurangan dari berbagai wilayah yang ada,” terang dia.

Sedangkan untuk komoditas kakao, pada tahun 2016 lalu, Jawa Timur mampu menghasilkan 40 ribu ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi dan produksi mengalami peningkatan menjadi sekitar 200 ribu ton per tahun.

“Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh relokasi industri pabrik asal Singapura ke daerah Gresik. Sehingga ke depan kami prediksi permintaan komoditas tersebut bakal naik lagi,” papar dia.

Menurut dia, ekspor komoditas kopi dan kakao nasional saat ini sedang mengalami guncangan sangat berarti dengan hadirnya beberapa negara kompetitor seperti Vietnam dan Thailand.

“Untuk soal produksi, kita sangat jauh tertinggal dibanding kedua negara tersebut. Contohnya Vietnam, untuk sekali panen kopi, mereka dapat memanen sekitar 2,5 ton per hektar per tahun. Sedangkan kita hanya mampu menghasilkan 700 kg per hektar per tahun,’ kupas Isdarmawan.

Dia menambahkan, ada dua hal yang menjadi kendala dari terhambatnya proses produksi kopi dan kakao. Yakni teknologi budidaya dan teknologi pascapanen.

“Saat ini para petani belum mempraktikkan Good Agricultural Practices (GAP),” katanya.

GAP adalah salah satu sertifikasi atau sistem tatacara bercocoktanam yang baik sesuai dengan standart yang telah ditentukan. Dalam sertifikasi tersebut juga ditentukan  tatacara penggunaan teknologi maju ramah lingkungan dan berkelanjutan yang nantinya mampu menghadirkan hasil panen komoditas yang maksimal.

“Jadi ke depan, jika kita ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor komoditas perkebunan, kita harus bisa mengubah proses produksi para petani hingga lebih baik lagi,” urai dia. (wh)

Baca juga:

Perspective Dialogue | Ekspor Indonesia Masih Bergantung Tiga Provinsi

Perspective Dialogue | Perkembangan Ekspor Terganjal Infrastruktur yang Buruk