Ekspor Jawa Timur Capai USD 17,209 Miliar selama 2014

Ekspor Jawa Timur Capai USD 17,209 Miliar selama 2014
foto:jatimprov

Hingga 2014 lalu, Ekspor Jawa Timur mengalami pertumbuhan cukup signifikan, yakni mencapai USD 17,209 miliar. Jumlah itu mengalami kenaikan sebesar 21,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang membukukan transaksi USD 15,508 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, M Sairi Hasbullah mengatakan, dari kenaikan ekspor tersebut, andalan utama tetap dari ekspor minyak dan gas bumi (migas). Ekspor migas Jatim tahun 2014 lalu tercatat naik 72,84 persen. “Nilai ekspor migas Jatim tahun 2014 mencapai USD 783,29 juta. Sedangkan di 2013 mencapai USD 453,17 juta,” terang M Sairi Hasbullah, Senin (9/2/2015).

Untuk ekspor non-migas juga mengalami pertumbuhan, meski tak sebesar ekspor migas. Dimana dari Januari sampai Desember 2014, ekspor non-migas Jatim mencapai USD 17,983 miliar atau naik 19,45 persen. Pada 2013, ekspor non-migas mencapai USD 15,055 miliar.

“Ekspor non-migas Jatim masih didominasi perhiasan atau permata senilai USD 285,09 juta. Diikuti lemak dan minyak nabati sebesar USD 134,16 juta, disusul kayu dan barang dari kayu USD 97,25 juta,” terangnya.

Untuk negara tujuan ekspor produk non-migas Jatim, Sairi Hasbullah mengungkapkan jika Jepang masih menempati posisi teratas. Nilai ekspor Jatim ke negeri Sakura itu sekitar USD 218,95 juta. Barang yang diekspor beragam mulai dari perhiasan, lemak dan minyak hewan, barang dari kayu, produk perikanan, hingga kerajinan.

Selain Jepang, negara kedua tujuan ekspor Jatim adalah Amerika Serikat sebesar USD 166,26 juta, dan ketiga Tiongkok senilai USD 136,16 juta. Sementara untuk Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), tujuan ekspor utama komoditi non-migas Jatim adalah Malaysia dengan nilai USD 76,93 juta, disusul Singapura USD 75,43 juta, dan Thailand USD 32,20 juta.

Sementara untuk tujuan ke negara-negara Uni Eropa seperti ke Belanda, nilai ekspor Jatim mengalami penurunan yakni mencapai USD 31,78 juta atau turun 10,79 persen. Disusul Inggris turun USD 22,47 juta, dan Jerman turun USD 22,74 juta. (wh)