Ekspor Indonesia Masih Bergantung Tiga Provinsi

Ekspor Indonesia Masih Bergantung Tiga Provinsi

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Johan Suryadarma, dan Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/2/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Ekspor Indonesia mengalami surplus pada Desember 2016 lalu. Nilainya mencapai USD 13,77 miliar. Sedangkan nilai impor nasional mencapai USD 12,78 miliar.

Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto menjelaskan, ada tiga provinsi di Indonesia yang menyumbangkan 40,18 persen dari total nilai ekspor nasional. Urutan pertama provinsi Jawa Barat, disusul Jawa Timur dan terakhir Kalimantan Timur.

“Selain itu, kami juga mencatat pasar komoditas non migas Indonesia saat ini masih didominasi oleh tiga negara. Di antaranya Amerika Serikat, China dan Jepang,” terang Doddi saat memandu acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/2/2017).

Menurut dia, capaian yang ditunjukkan Jawa Timur sendiri merupakan hal yang sangat luar biasa. Karena, Jawa Timur saat ini menduduki peringkat kedua terbesar pengekspor di Indonesia.

Namun di sisi lain, kata Doddi, hal tersebut menjadi salah satu permasalahan yang cukup rumit di dunia ekspor nasional. Pasalnya, sampai saat ini dunia ekspor Indonesia masih ditopang oleh tiga provinsi tersebut. “Hal ini sangatlah rentan,” cetusnya.

Dia menambahkan, untuk perkembangan ekspor Jawa Timur sendiri bergantung komoditas yang ditawarkan. Dicontohkan komoditas berupa perhiasan, sampai saat ini negara tujuan ekspor Jawa Timur di antaranya Swiss, Jepang, Singapura dan Malaysia.

“Untuk komoditas perikanan, negara tujuan ekspor kita ada di Jepang, China dan lain sebagainya,” terangnya.

Ke depan, menurut Doddi, untuk dapat meningkatkan basis provinsi penghasil ekspor, yang harus dilakukan adalah mempu memperluas pasar tujuan ekspor. “Untuk itu, para pelaku usaha dapat menambah kapasitas produksi dan kualitas barang produksi yang ditawarkan,” jelas Doddi. (wh)

Baca juga:

Perspective Dialogue | Perkembangan Ekspor Terganjal Infrastruktur yang Buruk

Perspective Dialogue | Ekspor Kopi dan Kakao Paling Terguncang