Ekspor Indonesia Harus Bisa Sebesar Myanmar dan Kamboja

Ekspor Indonesia Harus Bisa Sebesar Myanmar dan Kamboja
(ki-ka) Ketua GPEI Jatim Isdarmawan, Johan Suryadarma (Vice President I AP5I), Kresnayana Yahya mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (10/10/2010).

Ekspor berbagai barang dari Jatim ke negara Eropa dan Amerika sudah membaik. Namun, kapasitasnya tidak sebesar ekspor yang ditujukan ke negara-negara ASEAN. Diharapkan para pengusaha Indonesia, khususnya di Jatim, dapat membidik peluang ini.

“Tahun 2015 nanti kami berkeyakinan ada prospek yang besar, yaitu adanya pemulihan perekonomian dari negara Amerika dan Eropa. Ini ditunjukkan dengan uang dolar yang harganya membaik,” tutur Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam Prespective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (10/10/2014).

Menurut dia, negara Myanmar dan Kamboja sama seperti dengan Indonesia. Tetapi nilai ekspor dari kedua negara tersebut lebih besar. Padahal kedua negara tersebut pola hidupnya sama.

“Apa yang kita makan disini sama dengan apa yang dikonsumsi dengan negara-negara tersebut,” cetus Kresnayana.

“Tahun ini kita mencapai 14 miliar dolar Amerika dan kita harap besok di tahun 2015 mencapai 20 miliar dolar Amerika. Jatim sekarang ini ditarget 12 miliar dolar Amerika dan ini terpenuhi. Ini menunjukkan ekspor kita akan lebih bagus lagi,” sambung dia.

Menurut dosen statistika ITS ini, impor negara Indonesia yang terbesar adalah di bidang permesinan. Dengan banyaknya mengimpor mesin diharapkan para pengusaha Indonesia bisa membuat produksi barang yang dihasilkan dari impor mesin tersebut.

“Jadi, ada imbal balik. Kita mestinya bisa jadi pemasok produksi barang di Timur Tengah dan Afrika dari mesin yang kita impor,” ujar Kresnayana Yahya.

Ia mencontohkan Wings Grup dan Indofood. Keduanya sukses membuka cabang di negara Nigeria. Dan kabarnya sudah mencapai top produksi. Para pengusaha harus berkomitmen untuk quality. Kalau itu bisa, maka pengusaha dapat meningkatkan hasil ekspor dan akan dapat lebih besar lagi.

“Seluruh komponen harus bekerja sama dan jangan berdiri sendiri,” tandas dia.

Ketua GPEI Jawa Timur Isdarmawan Asrikan mengatakan, untuk dapat menciptakan peluang ekspor, pengusaha harus melengkapi kelengkapan dokumen surat. Dokumen surat itu berasal dan ditandangani oleh Disperindag dan Bea Cukai.

“Setiap hari ada 800 surat ekspor dari pengusaha Surabaya,” kata Isdarmawan Asrikan.

Dia lalu mengungkapkan, peluang di tahun 2015 bagi pengusaha lokal sangat banyak di Jatim dan pasarnya cukup besar. Ia menyarankan agar para pengusaha membuat atau mendatangi pameran.

“Kami mengikuti pameran di China dan Shanghai mulai dari pameran furniture agar produk kita dapat dikenal,” katanya.

Johan Suryadarma, Vice President I Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I)  mengatakan, untuk dapat meningkatkan ekspor pemerintah harus membangun infrastruktur baru maupun memperbaiki yang sudah ada.

Ia mencontohkan bila pelabuhannya sudah ada dan memadai tetapi jalannya tidak bisa tembus, seperti Pelabuhan Brondong di Lamongan.

“Kita harap kabinet yang baru bisa menjembatani hal ini,” kata Johan Suryadarma.

Menurutnya, hasil-hasil produk perikanan laut nilai ekspornya tiga kali lipat dari hasil darat. Ia mendengar kabar bila di pemerintahan Jokowi JK nantinya untuk Kementerian Kelautan dan Kehutanan digabung.

“Itu harus diantisipasi. Karena di negara pengimpor hasil laut Indonesia dokumennya sangat ketat dan harus dikenal. Yang biasa meminta impor laut kita adalah negara Amerika, Eropa dan Jepang,” pungkas Johan. (wh)