Ekspor Indonesia Bisa Digeser ke Afrika dan Amerika Latin

Ekspor Indonesia Bisa Digeser ke Afrika dan Amerika Latin
Ketua GPII Jawa Timur Is Dharmawan, Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Jawa Timur Nur Cahyudi, dan Chairperson Enciety Businees Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2015). arya wiraraja/enciety.co

Pemerintah diharapkan terus berupaya mencari celah di tengah lesunya perekonomian dunia. Dengan terus berupaya, diharapkan perekonomian Indonesia bisa mengalami perbaikan.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menyarankan agar cara pandang negara Indonesia, terutama Kota Surabaya, untuk ekspor harus bergeser.

Bila sebelumnya tujuan negara ekspor adalah China, Amerika, dan Jepang, maka ia meminta agar memperluas lagi di negara lainnya. “Ekspor Indonesia bisa ke negara Afrika yang ekonominya sudah tumbuh, bisa juga ke Amerika Latin. Akan ada keuntungan yang menguntungkan, tapi harus terus berusaha,” tegas Kresnayana Yahya di acara Perspective Dialogue di  Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2015).

Dirinya juga membenarkan bila negara-negara Asean menduduki tempat penting untuk ekspor Indonesia. Ekspor negara Indonesia di ASEAN mulai perhiasan dan hasil pertanian walau tidak sebesar biasanya. Pada empat bulan ini, impor dikendalikan secara serius.

“Lihat saja akan ada recovery di semester ketiga. Seperti hasil logam jalan kembali dan itu bisa diekspor ke negara lain selain ASEAN,” ujarnya.

Ia memberikan contoh untuk mendapatkan d iluar ekspor yaitu industri pariwisata agar kembali digiatkan. Seperti di Kota Kembang Bandung, wisatawan luar negeri rutin datang setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Dan itu memberikan impact bagi kota Bandung.

“Kalau Kota Surabaya lebih banyak bisnis. Dan ini harus digarap oleh Jatim. Karena di tengah krisis pasti ada peluang,” tukasnya.

Ketua GPII Jawa Timur Is Dharmawan Asrikan membenarkan bila negara Afrika Selatan masih menjadi potensial untuk dijadikan ekspor negara Indonesia selain Eropa, Amerika dan China.

“Kita harus agresif promosi dan ekspor tekstil, sepatu dan furniture ke Afrika,” kata Isdarmawan.

Menurut dia, Jatim mempunyai unggulan namun kini tidak seperti dulu lagi. Contohnya di wilayah Tanggulangin dan Wedoro yang dulu ramai namun sekarang sepi. Tempat yang dikenal sebagai pembuat kerajinan kulit dulunya malah kini banyak diketahui menjual barang-barang hasil impor dari China. “Ini perlu support yang kuat dari pemerintah,” sahutnya.

Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Jawa Timur Nur Cahyudi Nur Cahyudi mengakui bila bahan baku dan biaya distribusi kini jadi kendala karena masih mahal. Seperti furnitur, hasil kayu yang diambil dari Kalimantan di Jatim hanya dijadikan sebagai tempat mengolahnya saja. Sedangkan tekhnologi mesin industri kayu Jatim 30 persennya masih kalah dengan Vietnam.

“Tekhnologi mesin itu sangat mempengaruhi kecepatan dan volume kualitas. Dan pemerintah harus menjembatani untuk membeli alat. Dan para pekerja harus juga ada sertifikasi. Ini masih kita perjuangkan,” papar Nur Cahyudi. (wh)