Ekonomi Nasional Cerah Jika Muncul Pemimpin Baru

Ekonomi Nasional Cerah Jika Muncul Pemimpin BaruIndonesia mengalami tekanan dari sentimen dalam negeri dan luar negeri pada 2013. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada pertengahan tahun 2013 telah memicu lonjakan inflasi. Meski demikian, inflasi dapat tercatat lebih rendah menjadi 8,38 persen dari target 8,5-9 persen pada 2013.

 

 

Biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM) mencapai Rp 297 triliun. Nilai tukar rupiah pun melemah hingga tembus ke level 12.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, Indonesia mengalami defisit neraca transaksi berjalan dan perdagangan besar. Hal ini pun menjadi kekhawatiran investor.

Ekonom PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih menuturkan, Indonesia masih akan menghadapi defisit transaksi berjalan dan perdagangan yang tinggi pada 2014. Defisit tinggi itu pun menjadi catatan bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah diimbau untuk melakukan langkah-langkah memperbaiki defisit.

Selain itu, pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) legislatif dan presiden juga menjadi fokus perhatian investor. Mereka ingin segera mengetahui calon presiden Indonesia ke depan. Pelaksanaan pemilu yang aman dan lancar pun menjadi kunci kestabilan ekonomi.

Analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan menuturkan pelaksanaan pemilu dapat juga berimbas positif. Belanja masyarakat akan meningkat dan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) 2014. Namun, para menteri yang mayoritas dari partai politik akan disibukkan dengan agenda politik.

“Kinerja kementerian akan terganggu dan ini berimbas terhadap sedikitnya penyerapan anggaran,” kata Alfred,.

Ia mengakui, bila pemilu berjalan baik dan melahirkan pemimpin baru dapat memberikan harapan positif ke bursa saham.

“Saya meyakini pasar saham akan sangat sensitif dengan hal ini. Kejutakan kenaikan indeks saham di 2014 bukan berasal dari faktor fundamental tapi lebih kepada harapan pemimpin baru,” kata Alfred.

Ketidakpastian eksternal juga mempengaruhi ekonomi Indonesia. Tahun 2013, rencana penarikan dana stimulus moneter (tapering) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve telah mempengaruhi bursa saham global termasuk Indonesia. Bank sentral AS mulai menarik dana stimulus moneternya sebesar USD 10 miliar pada Januari 2014. Pasar pun akan menunggu seberapa agresif bank sentral AS melakukan tapering.

Ekonom David Sumual menuturkan, Indonesia juga menghadapi ketidakpastian dampak tapering (penarikan dana stimulus moneter AS). Bila dampak tapering kurang baik maka berimbas ke emerging market termasuk Indonesia. Apalagi ada rencana kenaikan tarif dasar listrik yang akan memberikan sentimen untuk ekonomi Indonesia

“Para fund manager asing menilai, saat ini Indonesia, India dan Afrika Selatan termasuk negara berkembang yang sebenarnya rapuh,” kata David.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,8-6,2 persen pada 2014. Selain itu, nilai tukar rupiah pun akan masih bergerak di kisaran 12.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (lp6/bh)