Ekonomi Melambat, Semen Indonesia Revisi Target Penjualan

Ekonomi Melambat, Semen Indonesia Revisi  Target Penjualan
foto: liputan6.com

Konsumsi semen nasional menurun karena perlambatan ekonomi, termasuk penjualan semen Indonesia. Karena itu, tidak sedikit perusahaan semen yang merevisi target penjualan hingga akhir tahun nanti. Salah satunya, Semen Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto menuturkan, belum semua proyek infrastruktur yang diharapkan bisa menjadi pendorong pertumbuhan penjualan berhasil terealisasi hingga akhir semester pertama tahun ini. ’’Meski kontribusinya kecil sekitar 20 persen, proyek infrastruktur ini menjadi trigger bagi proyek ritel seperti perumahan, gedung perkantoran, rumah sakit dan lain-lain yang sumbangannya terhadap konsumsi semen bisa mencapai 80 persen,’’ katanya. ’’Contohnya, untuk pembangunan tol sepanjang 2.000 kilometer, kebutuhan semen hanya enam juta ton selama lima tahun atau 1,2 juta ton per tahun,’’ lanjut dia.

Kondisi tersebut memaksa pihaknya merevisi target pertumbuhan dari 4–6 persen menjadi 0 persen per Juni ini. Artinya, penjualan tahun ini stagnan atau sama dengan capaian tahun lalu sebesar 26,1 juta ton. Padahal, sebelumnya penjualan diproyeksi bertambah sekitar 1,2 juta ton. Pascarevisi, pihaknya optimistis mampu mencapai target tersebut karena biasanya permintaan naik pada semester kedua.

’’Hingga Januari–Mei 2015, sales semen nasional hanya 22,9 juta ton. Turun 3,7 persen dari periode yang sama tahun lalu 23,8 juta ton. SalesSemen Indonesia sebesar 9,9 juta ton atau turun 4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 10,4 juta ton,’’ papar Agung.

Penurunan itu terutama terjadi pada domestik dengan konsumsi terbesar di Jawa mencapai 56 persen. Sebaliknya, ekspor mencatat pertumbuhan dari 32.155 ton menjadi 204.712 ton.

Sementara itu, Dirut Semen Gresik Sunardi Prionomurti optimistis, pada semester kedua, permintaan semen tumbuh. Secara nasional, Semen Gresik memiliki market share 22–23 persen, sedangkan di Jatim mencapai 41 persen. Tetapi, hampir 70 persen produksi dipasarkan di Jatim. Secara holding, kontribusi Semen Gresik menembus 50 persen dengan target penjualan tahun ini dipatok 13 juta ton. ’’Semen ini punya karakteristik yang berat, padat modal, biaya transportasi yang mahal mencapai 17 persen, dan biaya energi hingga 52 persen dari total biaya produksi,’’ jelasnya. (ram)