Ekonomi Jatim Tumbuh 5,18 Persen pada Triwulan I/2015

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,18 Persen pada Triwulan I/2015
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim M Sairi Hasbullah.

Pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I/2015 terhadap triwulan I tahun 2014 (y-on-y) sebesar 5,18 persen atau lebih tingi dari nasional yang hanya 4,71 persen. Meskipun lebih baik dari pertumbuhan nasional,  ekonomi Jatim juga mengalami perlambatan.

Kepala Badan Pusat Statistik  (BPS) Jatim M Sairi Hasbullah mengatakan, pertumbuhan perekonomian Jatim pada triwulan I/2015 sebesar 5,18 persen (y-on-y) dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2014 yang mencapai 5.90 persen. Ini menunjukan ekonomi Jawa Timur sedang mengalami kelesuan.

Secara nasional perlambatan ekonomi pada triwulan I/2015 dipengaruhi oleh ekonomi global. Sebagai contoh di ekonomi China yang melambat pertumbuhannya dari 7,4 persen menjadi 7 persen dan peran ekspornya turun dari 10 persen menjadi 9 persen. Selain itu juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia serta turunnya ekspor dan impor nasional.

Dari sisi produksi, hampir semua lapangan usaha tumbuh positif kecuali kategori pengadaan listrik, gas dan produksi es yang mengalami kontraksi 0,37 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa pendidikan sebesar 8,83 persen. Diikuti oleh jasa keuangan 8,77 persen, kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial 8,62 persen.

Struktur perekonomian Jatim menurut lapangan usaha triwulan I/2015 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yaitu Kategori industri pengolahan 29,76 persen, kategori pertanian, kehutanan dan perikanan 14,54 persen dan kategori perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor 17,51 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhannya, lapangan usaha industri pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,58 persen. Diikuti kategori perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 1,08 persen, dan kategori konstruksi sebesar 0,56 persen.

Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen net ekspor antar daerah sebesar 4,41 persen, sedangkan terendah komponen perubahan Inventori (-3,08 persen). (wh)