Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 10 Persen

 

Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 10 Persen

Ekonomi Indonesia diyakini bisa tumbuh  sampai 10 persen. Angka  optimis ini melebihi target yang dicanangkan  Pemerintah bahwa tahun depan Ekonomi Indonesia bisa tumbuh di kisaran angka 7 persen. Demikian keyakinan yang  disampaikan Wakil Ketua Kebijakan Energi Nasional (KEN) Raden Pardede.

Syaratnya, pemerintah harus memanfaatkan pertumbuhan manufaktur Tiongkok yang dalam beberapa tahun ke depan akan berekspansi di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia. “Peluang perekonomian tumbuh double digit itu sangat mungkin dengan cara kita kembali ke sektor manufaktur seperti tahun 1980 hingga 1990-an. Hal ini didorong trend manufaktur Tiongkok yang perlahan namun pasti naik, mereka akan berekspansi ke kawasan ASEAN,” katanya dalam jumpa pers “Microsoft Economy Outlook” di Jakarta, Jumat (26/9).

Dia mengatakan, peluang ini ditangkap oleh Vietnam, Kamboja, Bangladesh dan India yang berlomba-lomba mengembangkan kawasan industri bebas untuk menarik investor asing, termasuk China. “Industri manufaktur dengan didukung kebijakan yang tepat, lebih menjanjikan dibanding sektor lain,” kata Raden.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih stuck di kisaran 5 persen dinilai lantaran penyerapan tenaga kerja belum maksimal. Untuk itu, pemerintah baru dinilai perlu kembali fokus pada pembangunan industri manufaktur.

Selain itu, pemerintahan juga harus segera mempermudah kebijakan yang bisa mendukun giklim investasi, sehingga target pertumbuhan 7 persen akan mudah tercapai, bahkan bisa sampai dua digit. “Saya kira Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) harus meningkatkan jumlah investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) khususnya di industri manufaktur,” kata dia.

Raden melanjutkan, pemerintah juga perlu menyiapkan lahan untuk pembangunan infrastruktur secara besar-besaran. Jika tidak segera dilakukan, bisa menjadi pemicu tingginya inflasi akibat kacaunya sistem logistik Indonesia. “Masih ada gap capital goods, volititas harga barang di tiap-tiap daerah, satu contoh, harga semen di Jakarta dan Wamena (Papua) bisa berselisih hingga 100 persen, atau apel Malang yang lebih mahal dari apel Washington, biaya logistik antar pulau masih sangat mahal, ini yang perlu segera diatasi pemerintah baru,” tambahnya . (bst/ram)