Ekonomi Global Bisa Tingkatkan Eksposur Risiko Pasar Dalam Negeri

Ekonomi Global Bisa Tingkatkan Eksposur Risiko Pasar Dalam Negeri

Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur Sukamto (tengah) memberikan keterangan di Gedung Islamic Center Surabaya, Rabu (5/7/2017). foto:arya wiraraja/enciety.co

Tantangan perekonomian Indonesia ke depan masih tergolong cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik dengan ditopang meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa dan Jepang.

“Namun industri keuangan tetap harus mewaspadai berbagai risiko perekonomian yang dipengaruhi kenaikan Fed Fund Rate, kebijakan fiskal dan perdagangan serta penurunan besaran neraca Bank Sentral Amerika Serikat, dan perkembangan geopolitik di beberapa  kawasan, khususnya di semenanjung Korea dan konflik yang terjadi di Qatar,” kata Otoritas Jasa Keuangan Regional 4 Jawa Timur (OJK KR 4) Sukamto dalam acara Silaturrahim dan Halal Bihalal yang bertempat di Gedung Islamic Center Surabaya, Rabu (5/7/2017).

Acara itu dihadiri Pengurus Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Jawa Timur, Pengurus Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Daerah (FKLJKD) Jawa Timur, Anggota Satgas Waspada Investasi (SWI) Jawa Timur, Direksi dan Pimpinan Industri Jasa Keuangan di Jawa Timur, serta Ketua Asosiasi Industri Jasa Keuangan di Jawa Timur, dengan tema Membangun Soliditas Melalui Silaturrahim OJK dengan Industri Jasa Keuangan Jawa Timur.

Menurut Sukamto dia, perkembangan ekonomi global berpotensi meningkatkan eksposur risiko pasar dalam negeri. OJK telah menyiapkan kebijakan-kebijakan, baik terkait pemberdayaan UMKM maupun percepatan perizinan penerbitan surat berharga. Juga dukungan terhadap pengembangan layanan jasa keuangan berbasis teknologi informasi (Fintech) yang didukung sinergi dan kolaborasi bersama Industri Jasa Keuangan. Berikut para mitra kerja dalam wadah Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah dan Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Daerah.

Sukamto yakin, tantangan perekonomian tersebut dapat ditangkap sebagai peluang-peluang baru yang  dapat mendukung pencapaian target-target bisnis pada tahun 2017 secara maksimal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jatim.

Berdasarkan data Statistik Lembaga Jasa Keuangan Jawa Timur, pada posisi April 2017 aset perbankan di Jawa Timur meningkat 7,76 persen (yoy), masih lebih rendah dibandingkan peningkatan aset perbankan nasional sebesar 10,49 persen (yoy).

Pertumbuhan aset tersebut terutama dipengaruhi peningkatan DPK yang dihimpun oleh perbankan di Jatim yang mencapai sebesar 7,85 persen (yoy), sedangkan kredit dan pembiayaan yang disalurkan tercatat tumbuh sebesar 6,05 persen (yoy).

“Sementara itu, peningkatan DPK dan  kredit dan pembiayaan perbankan nasional pada posisi April 2017 masing – masing tercatat sebesar 9,63 persen dan 9,53 persen (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur,” terangnya.

Data statistik juga menunjukkan bahwa jumlah Loan to Deposit Ratio (LDR)
Bank Umum Konvensional di Jawa Timur sebesar 84,20 persen masih tercatat lebih  rendah dibandingkan LDR Bank Umum Konvensional Perbankan Nasional  yang sebesar 89,12 persen.

“Rasio LDR tersebut juga sebanding dengan rasio Non Performing Loan (NPL) Bank Umum Konvensional di Jawa Timur yang tercatat sebesar 3,06 persen, lebih rendah dibandingkan rasio NPL Perbankan Nasional yang sebesar 3,16 persen,” tandas dia. (wh)