Dulang Rupiah dari Bisnis Limbah Eceng Gondok

Dulang Rupiah dari Bisnis Limbah Eceng Gondok
foto: jpnn

Bukan hal mudah melakukan usaha penyelamatan lingkungan. Namun lewat kesungguhan, ketekunan, dan kreativitas, hal itu pasti bisa dilakakukan.

Dulang Rupiah dari Bisnis Limbah Eceng Gondok
Wiwit Manfaati bersama suaminya, Supadi, sukses olah limbah eceng gondok.

Hal itulah yang dilakukan Wiwit Manfaati. Perempuan yang menjadi anggota usaha kecil mikro (UKM) Pahlawan Ekonomi (PE) tersebut sukses melakoni bisnis limbah eceng gondok. Dia mampu mendulang rupiah lewat produk-produk yang dihasilkan dari mengolah limbah eceng gondok dan pelepah pisang.

Wiwit Manfaati mengawali perjalanan bisnisnya sebagai kader lingkungan di tempat tinggalnya yang digelutinya sejak 2006. Ketika itu, ia melihat rimbunnya enceng gondok di waduk belakang rumahnya. Dengan berbekal pengalaman dan hobi membuat kerajinan sejak masih beliaia mulai mengumpulkan tumbuhan air mengapung tersebut.

Setelah enceng gondok dikumpulkan, batangnya disisihkan. Untuk dijadikan bahan utama kerajinan, tanaman harus lebih dulu dikeringkan. ’’Enceng gondok harus benar-benar kering supaya pengerjaannya mudah,’’ ujar dia.

Proses pengeringan memakan waktu 14 hari di bawah sinar matahari. Namun, jika cuaca tidak menentu, pengeringan memakan waktu yang cukup lama. Setelah benar-benar kering, satu per satu helai dianyam hingga berbentuk lembaran panjang. Kemudian mengolahnya hingga pipih. Tujuannya, agar mudah dibentuk menjadi kerajinan. Untuk mendapatkan hasil pipih, enceng gondok harus dipres.

Setahun kemudian, wanita berjilbab ini mengikuti pelatihan pemanfaatan eceng gondok menjadi beragam produk kerajinan, tahun 2007. Pelatihan ini langsung membuat dirinya tertarik. Maklum, sejak kecil dia punya hobi yang tak jauh dari bidang ketrampilan tangan, yakni sulam menyulam pita. Dia takjub dengan kerajinan anyaman limbah enceng gondok yang terlihat bagus dan rapi.

“Awalnya, hasil anyaman saya jelek. Setelah 8 kali belajar akhirnya berhasil. Dari situlah produk yang saya buat akhirnya dilirik tetangga sekitar. Dan saya akhirnya mulai berani menjual hasil karya saya yang pertama,” turur wanita kelahiran 15 April 1967 ini.

Tahun 2008, ketika gencar-gencarnya acara lomba penghijauan, Kelurahan Kebraon RW 13, Surabaya memanfaatkan kerajinan limbah eceng gondok sebagai produk unggulan. Dari itulah Pemkot Surabaya mulai paham bila kerajinan eceng gondok bisa dijadikan produk UMK yang memberikan nilai ekonomis.

Wiwik mengungkapkan, kali pertama ikut pameran di Gramedia Expo ia mengaku minder. Pasalnya, produk peserta pameran lain kualitasnya jauh lebih baik dari miliknya. Akan tetapi, panitia tetap memberi semangat Wiwit untuk tetap berkiprah.

Alhamdulillah, sebagai perajin baru, produk Wiwit banyak mendapat perhatian, tak terkecuali  dari media massa. Berbagai instansi pun mendukung usaha ini untuk menjadi produk unggulan yang menarik.

Sejak itu, berbagai pameran maupun event baik skala provinsi maupun nasional sering diikutinya. Melihat Wiwit yang begitu sibuk, akhirnya sang suami, Supardi, memutuskan untuk ikut terjun membantu usaha ini.

Di awal-awal usahanya, Wiwit mengolah bahan eceng gondok menjadi beragam tas wanita yang diberi hiasan bunga dan pemandangan alam dari bahan yang sama, kemudian berkembang dimodifikasi dengan karung goni, dan lukis. Sampai di sini Wiwit merasa belum puas dengan karya-karyanya.

Akhirnya, dia mencoba memadukan dengan keterampilan yang dia kuasai selama ini, yakni sulam pita. Ternyata pasar sangat menyukai produk-produk terbarunya itu.

Sulam pita ini sekaligus menjadi ciri khas produk Wiwit, selain anyaman eceng gondoknya yang lebih kecil dan rapat, dibanding pesaing yang sama di bisnis ini.

“Cukup dengan melihat hasil anyaman dan hiasan sulam pitanya, bukan hanya saya, konsumen yang sering memakai produk saya pun tahu bahwa itu made in kami,” kata Wiwit yang mengaku mengawali bisnis ini dengan modal tak lebih dari Rp 200 ribu.

Sebagai perajin, Wiwit mengaku tidak berhenti belajar memperbarui produknya agar bisa mengikuti selera pasar. Misalnya untuk desain, Wiwit memanfaatkan keikutsertaan pameran sebagai ajang untuk mencari ilmu ke para perajin yang lain.

Terkadang produk baru buatannya dihasilkan dari ‘kecelakaan’. Wiwit mengambil contoh menunjuk tudung saji yang ada di depannya. Semula dia ingin membuat ‘penutup’ buah-buahan. Namun karena kebesaran, akhirnya barang itu lebih pas untuk tudung saji ketimbang tutup buah.

Berapa omzet per bulan? Baik Wiwit tidak bisa memberikan angka pasti, karena pemasarannya sendiri dari berbagai cara. “Untuk sekali pameran kami bisa mendapat Rp 9-10 juta,” ungkap Wiwit.

Di bagian halaman rumah ini tampak tumpukan limbah eceng gondok dan pelepah pisang yang sudah kering. Bahan baku inilah yang mereka ‘sulap’ menjadi barang yang punya nilai ekonomis.

Di ruang tamu yang merangkap ‘etalase’ hasil karya mereka, tampak sejumlah barang yang siap dijual maupun yang masih membutuhkan sentuhan finishing.  Ada tempat tisu, tatakan gelas, tudung saji, tas wanita, penyekat ruangan, meja, kap lampu, penyekat ruangan dan masih banyak lagi lainnya. Semuanya terbuat dari bahan dasar eceng gondok yang dimodifikasi dengan pelepah pisang dan sulaman pita sebagai aksennya.

Dalam menjalankan roda bisnis limbah eceng gondok ini, Wiwit dibantu 13 tenaga kerja. Sebetulnya jumlah tersebut masih kurang. Namun mereka mengakui tak mudah untuk merekrut tenaga kerja yang mau menggeluti bisnis anyaman limbah eceng gondok ini. Buktinya, tak sedikit SDM (sumber daya manusia) yang keluar masuk di UMK-nya.

“Mereka cepat mutung, kerajinan ini memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan,” papar Wiwit.

Dalam merekrut tenaga kerja, keduanya tidak terlalu memberikan persyaratan ketat. Semua tenaga kerja itu merupakan wanita yang sebelumnya ditraining lebih dulu mengenai cara menganyam eceng gondok. Setelah dinyatakan ‘lulus’, mereka boleh mengerjakan pekerjaannya di rumah dan tinggal setor kalau sudah jadi.

Selanjutnya, produk ‘setengah jadi’ itu akan melewati tahap ‘pemutihan’. Setelah itu baru diberi hiasan sulam pita untuk produk-produk alat rumah tangga hingga aksesoris, seperti tempat tisu, tatakan, tudung saji, dan sebagainya.

Untuk mengajak orang agar tertarik dengan kerajinan enceng gondok ini, dia menjadi instruktur pelatihan kerajinan enceng gondok. Tak terkecuali pelatihan periodeik yang dihelat Pahlawan Ekonomi Surabaya.

Selain itu, Wiwit juga didapuk menjadi pelatih kerajinan tangan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Surabaya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Surabaya, Dinas Koperasi Surabaya. (mys/jpnn/wh)