Duh, Mata Air Brantas Tinggal Tersisa 57 Sumber

Duh, Mata Air Brantas Tinggal Tersisa 57 Sumber
foto: erickbio.wp.com

Musim kemarau dan dampak alih fungsi lahan resapan kian membuat sumber mata air mengering. Gubernur Jatim, Soekarwo, menjelaskan kondisi mata air Kali Brantas di Desa Sumber Brantas, Kota Batu, dari 102 sumber mata air yang ada kini hanya tersisa 57 sumber.

“Sumber brantas dari 102 tinggal 57 sumber. Ini harus diselamatkan agar sumber air tidak sampai rusak dan mengering,” ujar Soekarwo, Kamis (20/8).

Untuk itu, lanjutnya, upaya konservasi harus dilakukan. Sedianya pemerintah mau melakukan konservasi di Sumber Brantas. “Dulu mau ditanami pohon kolang kaling. Lahan seluas 100 hektare mau dibebaskan tapi tidak bisa karena digunakan warga (untuk lahan pertanian),” ungkapnya.

Menurutnya, pohon kolang kaling sangat bagus untuk upaya konservasi. “Berbeda dengan sawit. Sawit menghabiskan air dan merusak usur hara pada tanah, kalau kolang kaling lebih banyak menyimpan air,” jelasnya.

Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup, Imam Rochani menjelaskan, dengan berkurangnya jumlah air di DAS Brantas juga berdampak pada penurunan kualitas air. “Kalau sember berkurang maka debit air bisa turun. Dengan meningkatnya jumlah pencemaran air sungai dari limbah rumah tangga, pabrik, atau pertanian otomatis juga menurunkan kualitas air,” katanya.

Menurutnya, jika air yang dihasilkan sedikit dan mengalir terlalu lama melintasi banyak kab/kota dengan ditambah pencemaran dari limbah, maka air bisa cepat kotor. Untuk itu, lanjutnya, upaya konservasi hutan lindung di Sumber Brantas jika tak segera dilakukan, maka krisis air di Brantas tidak menutup kemungkinan akan terjadi beberapa tahun mendatang.

Ia menyebutkan, kerusakan mata air di Sumber Brantas karena hutan lindung yang telah beralih fungsi. Misalnya di Kecamatan Bumiaji, lahan kritis mencapai 80 persen karena lahan milik warga dengan dijadika lahan pertanian dan pemukiman. Sedangkan 20 persennya milik pemerintah yang masih tetap menjadi hutan lindung.

Adapun kerusakan hutan lindung di area sumber ini lebih banyak terjadi di 200 meter di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Ini terjadi karena karena perluasan daerah pemukiman warga dengan menebangi pohon di hutan.

Selain itu, penebangan juga sering dilakukan untuk membuka area budidaya tanaman semusim, seperti apel. Namun menurut dia, tanaman semusim itu kendati memiliki nilai ekonomis, tapi untuk nilai ekologisnya kurang bisa mendukung. Sehingga, konservasi bisa dilakukan dengan mengembalikan fungsi hutan lindung yang telah dialih fungsikan tersebut.

Kawasan hutan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang melintasi 16 kab/kota diketahui sebesar 1,5 juta hektare. Sesuai ketetapan UU No 26/2002 tentang Tata Ruang, idelanya dari total hutan di DAS minimal terdapat 30 persen berupa hutan lindung atau di DAS Brantas terdapat seluas 450 ribu hektare. Namun, kenyataannya di DAS Brantas luas hutan lindung yang tersisa hanya sekitar 3,42 persen saja atau sekitar 60 ribu hektare.

“Yang pasti konservasi harus dilakukan secara bertahap dengan melakukan penanaman pohon di area hutan lindung di sekitar sumber yang telah mengalami kerusakan. Jika tidak maka kekeringan dan krisis air bisa terjadi dalam beberapa tahun kedepan karena Brantas menjadi sumber air yang menghidupi jutaan masyarakat Jatim di belasan kab/kota,” tukasnya. (kmf/wh)