Duh, 800 Balita Jatim Alami Gizi Buruk

Duh, 800 Balita Jatim Alami Gizi Buruk

Sebanyak 800 ribu balita di Jatim mengalami gizi buruk dari total empat juta balita. Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan. Beberapa daerah yang masih langganan menyumbang angka gizi buruk ini berasal dari Pulau Madura, Sibubondo dan Malang Selatan

Direktur Utama Ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Andrianto yang juga menjabat Kepala bagian Dinas kesehatan Jatim mengatakan tingginya gizi buruk tersebut disebabkan kurang pahamnya orang tua dalam memberikan gizi terhadap anaknya.

“Angka ini masih terbilang tinggi dan diharapkan kesadaran dari masing-masing pihak untuk bersama-sama mengentaskan gizi buruk,” katanya, Rabu (26/2/2014).

Meski begitu, Andriyanto memberi apresiasi pada Kota Surabaya yang dalam tiga tahun ini berhasil mengentas gizi buruk. Terbukti sudah tidak ada kasus gizi buruk di Surabaya.

Ditambahkannya, sebab adanya gizi buruk maupun kurang gizi ini dikarenakan orang tua yang tidak cukup pengetahuan tentang gizi. Sebesar 39,6 persen data yang dimiliki Persagi menunjukkan sebab karena orang tua tidak berpengetahuan cukup. Sedangkan alasan kemiskinan hanya mencakup 21 persen. Misalkan saja orang tua tidak faham tentang makanan sehat dan bergizi.

Tidak hanya kasus gizi buruk, yang menjadi catatan Andri dalam peringatan hari gizi nasional ini adalah kasus balita pendek yang terus meningkat. Di Jawa Timur, setidaknya 36,5 persen dari jumlah penduduk Jatim yaitu sebanyak 40 juta penduduk menderita penyakit pendek. Balita tersebut jauh lebih pendek dari tinggi badan yang seharusnya.

Untuk laki-laki mengalami selisih pendek sebanyak 13 sentimeter. Sedangkan untuk perempuan selisih tinggi badannya dibandingkan dengan tinggi badan normal mencapai 10 sentimeter. “Kalau Andik Firmansyah dan David Beckam dibandingkan, ada selisih 13 sentimeter, itu merupakan fakta adanya gejala pendek masyarakat Indonesia,” tambah Andrianto.

“Juga tentang mind set makanan empat sehat lima sempurna, itu hanya bersifat kualitatif, padahal yang dibutuhkan manusia adalah kuantitatif, berapa jumlah nasinya, lauknya dan sayurannya dalam sekali makan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu dirinya menyarankan pada semua orang tua yang memiliki balita untuk tetap aktif memeriksakan anak ke posyandu. Karena menurut pakar gizi satu ini konsep posyandu ini sangat bagus karena bisa memantau berat badan anak, sehingga dapat diketuhui tentang kecukupan gizinya. “jadi orang tua harus aktif untuk periksakan berat badan dan pertumbuhan anaknya,” pungkasnya.(wh)