Duh, 400 Ribu Warga Jatim Masih Buta aksara

 

Duh, 400 Ribu Warga Jatim Masih Buta aksara

Buta aksara di Jatim masih tinggi. Tahun 2014, Dewan Pendidikan Jatim mencatat, sebanyak 400 ribu warga yang berusia 15-60 tahun di Jatim masih buta aksara alias tidak bisa baca tulis.

“Dari data yang sangat mengkhawatirkan ini ada indikasi bahwa program yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jatim tidak berhasil memberantas bebas buta aksara bagi masyarakat Jatim,” ungkap Isa Anshori, pemerhati pendidikan yang juga anggota Dewan Pendidikan Jatim, kepada wartawan di Surabaya, Senin (8/9/2014).

Fakta itu menyebutkan jika warga buta huruf tersebut tak mengikuti pendidikan wajib belajar sembilan tahun. Atau bahkan mereka tidak pernah sekolah.

Menurut Isa Anshori, justru persoalannya bukan pada jumlahnya. Ia menyorot bila sejumlah program pemerintah di antaranya wajib belajar 9 tahun bahkan hingga 12 tahun, jika dikaitkan dengan keberadaan masyarakat yang masih belum bisa membaca dan menulis. Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius bagi penyelenggara pemerintahan maupun masyarakat sendiri.

“Program Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) misalnya, seringkali terkendala oleh faktor-faktor non teknis yang tidak penting, tapi berdampak pada terhentinya aktivitas itu,” ujarnya.

Sementara itu, Yenni Atmojo, Wakil Ketua Yayasan Aeli Surabaya, mengatakan masih banyaknya masyarakat yang buta aksara menjadikan daya saing mereka minim dan tidak dapat mengembangkan diri mereka secara maksimal.

“Bandingkan dengan negara-negara lain yang terus membudayakan membaca dan terus memberantas buta huruf,” kata Yenni Atmojo. (wh)