Dua Perusahaan Asing Bangun Smelter

 

Dua Perusahaan Asing Bangun Smelter

Dua perusahaan tambang asing telah memulai pembangunan pabrik pemurnian minerba (smelter) di kuartal I ini. Investasi tersebut menyumbang terhadap pencapaian Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 72 triliun pada periode Januari-Maret 2014. Demikian laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Diungkapkan Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis, ada dua perusahaan tambang asing yang berinvestasi membangun industri hilirisasi pertambangan pada kuartal I 2014. Ini dilakukan seiring dengan aturan pemerintah dalam Undang-undang (UU) Minerba.

Sayang, Azhar masih enggan membeberkan identitas perusahaan tambang tersebut lantaran masih dalam tahap investasi berkelanjutan.

“Yang tercatat telah merealisasikannya pembangunan smelter dan berada di Kalimantan Barat yakni mengolah bauksit dan Maluku Utara yang mengolah nikel menjadi feronikel. Keduanya adalah perusahaan besar,” tutur dia usai Paparan Realisasi Investasi Kuartal I di kantornya Jakarta, Kamis (24/4/2014).

Masing-masing perusahaan, kata Azhar, sudah menanamkan modal untuk membangun fasilitas permunian tersebut cukup besar. Investasi smelter di Kalimantan Barat tercatat senilai USD 450 juta dan Rp 3,6 triliun untuk smelter di wilayah Maluku Utara.

Ketika dikonfirmasi mengenai komitmen pembangunan smelter oleh PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara, dia masih bungkam. “Freeport sama Newmont belum (investasi). Nggak tahu alasannya,” ucapnya singkat.

Sektor pertambangan, lanjut Azhar, berada diurutan pertama realisasi investasi berdasarkan bidang usaha. Penanaman Modal Asing (PMA) dibidang usaha ini tercatat senilai US$ 1,64 miliar dengan total 258 proyek pada periode tiga bulan pertama ini.

“Usaha jasa pertambangan memang mulai banyak di Indonesia. Misalnya investasi dari Australia Coal yang semakin meningkatkan modalnya di Indonesia sejak 2000 sampai sekarang,” terang Azhar.

Selain itu, dari data BKPM, realisasi investasi berdasarkan negara berasal dari sejumlah negara. Paling besar penanaman modal dari Singapura senilai US$ 1,28 miliar dengan 467 proyek, Jepang US$ 951,9 juta dengan 265 proyek dan Mauritius sebesar US$ 396,1 juta dari 9 proyek.

“Mauritius bukan baru kali ini saja berkontribusi ke investasi kita. Sudah sejak lama dan mayoritas investasinya di sektor pertambangan,” pungkasnya (lp6/wh).