Dua Pelukis dan Pematung Nasional Gelar Pameran Rancak di HoS

Dua Pelukis dan Pematung Nasional Gelar Pameran Rancak di HoS

Pameran lukisan dan patung di Galeri House of Sampoerna, Jalan Taman Sampoerna, Surabaya. foto:arya wiraraja/enciety.co

Keragaman budaya, pola pikir, kebiasaan, maupun ide dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari setiap individu. Keragaman maupun perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya justru merupakan identitas dari masing-masing individu.

Masdibyo dan Gigih Wiyono pelukis dan pematung memandang, jika sebuah perbedaan sebagai bentuk energi yang dapat disatukan dengan harmonis dan apik seperti tersirat pada 30 karya lukis yang diusung pada pameran bertajuk Rancak, yang digelar mulai 3 Maret-1 April 2017 di Galeri House of Sampoerna (HoS), Jalan Taman Sampoerna, Surabaya.

Rancak diterjemahkan sebagai proses harmonisasi keragaman yang dinamis sebagai upaya menjaga spirit kreatifitas dan apresiasi dalam berkarya. Karakteristik dalam penciptaan karya yang berbeda dari keduanya mampu menghadirkan karya yang variatif, namun tetap senada. Elok dalam sentuhan maupun goresan kuas yang sarat akan pesan bagi penikmatnya,” ujar Masdibyo, Selasa (28/2/2017).

Menurut dia, sebagai makhluk sosial yang acap kali terhenyak, terhanyut, ketika terjadi peristiwa besar, menuangkan hiruk pikuk perasaannya kedalam sebuah karya seni yang kerap memilukan, mengharukan, namun tak jarang juga membahagiakan, seperti pada karya yang berjudul Berdoa Ditengah Teror Jakarta, dan Rejeki Besar buat Bersama.

Lukisan dengan gaya ekspresionis Masdibyo seakan memberi kebebasan bagi penikmatnya dalam mengintrepretasikan setiap karyanya.