Dua Emiten Surabaya Incar Pasar Properti

 

Dua Emiten Surabaya Incar Pasar Properti

Pelambatan pasar properti pada semester pertama tahun ini tidak membaa dampak bagi pelaku pasar untuk berekspansi. Kali ini dua emiten asal Surabaya, PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI) dan PT Lamicitra Nusantara Tbk (LAMI) sama-sama mengincar pasar properti di tahun 2014 ini.

Bedanya, LAMI sudah lama bermain dipasar properti tetapi tahun ini diperkirakan akan membangun tower. Sedangkan MAMI berencana melakukan ekspansi landed (perumahan) start Oktober tahun ini di Gresik, melalui anak perusahaannya.

Direktur LAMI Priyo Setya Budi saat dijumpai selepas Rapat Umum Pemegang Saham, Jumat (26/6/2014) lalu, menyebutkan rencana ekspansi pembangunan lima tower di Surabaya. “Lahannya sudah kita siapkan seluas empat hektar, dan lay out maupun desain masih kita bahas setelah RUPS ini,” jelasnya.

Pihak LAMI masih melakukan pembicaraan dengan Pemerintah Kota Surabaya dan Otoritas Bandara Wilayah III untuk pembangunan apartemen lima tower ini. Sebab, Otban Wilayah III telah menetapkan batas ketinggian melalui Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), tentang batasan ketinggian gedung radius tertentu dari bandara setempat.

Dia menambahkan, sejauh ini belum bisa menentukan apakah apartmen ini nantinya memidik pasar high end atau middle end. “Tergantung ijin yang kami kantongi nanti (KKOP). Investasi ini masih perlu kita bicarakan melalui corporate action,” ungkapnya.

MAMI juga tidak mau kalah dalam melakukan diversifikasi usaha. Emiten yang core business-nya hotel ini menyiapkan lahan seluas 6,6  di Gresik. Pembangunan ini akan dilaksanakan oleh anak perusahaan PT Mas Murni Indonesia Tbk, PT Tiara Raya Planning.

“Kenapa kami pilih Gresik, karena lahan masih tersedia, dan UMK juga nyaris sama dengan Surabaya. Demikian juga kota ini bakal berkembang, karena diapit oleh dua kota (Surabaya dan Lamongan) yang secara pertumbuhan industri dan transportasi tengah bergelia,” ungkap Drektur  PT Mas Murni Indonesia Tbk, Djie Peterjanto Suharjono.

Sejauh ini kedua emiten ini masih merahasiakan nilai investasi yang tengah disiapkan untuk pengembangan pasar properti. “Yang pasti, investasi ini nantinya dari perusahaan sendiri,” tegas Peterjanto menutup pembicaraan edengan sejumlah awak media.

Laporan keuangan MAMI hingga Mei 2014 tercapai, Rp 32,1 miliar atau naik dibanding periode yang sama tahun lalu yan tercapai Rp 28,7 miliar. Sementara LAMI membukukan pendapatan pada akhir 2013 sebesar Rp 54,340 miliar atau naik 38,43 persen dibanding kinerja tahun 2012. (wh)