Dosen ITS Terima Penghargaan Satyalancana Kebudayaan

Dosen ITS Terima Penghargaan Satyalancana Kebudayaan
Prof Dr Ir Josef Prijotomo MArch

Dosen ITS, Prof Dr Ir Josef Prijotomo MArch dinyatakan menjadi penerima Tanda Kehormatan Bidang Kebudayaan Satyalancana Kebudayaan dari Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tanda kehormatan itu ia terima sebagai penghargaan atas jerih payahnya melestarikan kebudayaan Indonesia melalui pendidikan Arsitektur Nusantara. Sebelumnya, pada awal Agustus lalu, Josef mengaku menerima sebuah pesan dari orang yang tidak ia kenal. Pesan yang mengatasnamakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) itu menyatakan bahwa ia terpilih sebagai calon penerima anugerah kebudayaan.

“Dalam pesan tersebut, saya diajak untuk wawancara,” jelasnya. Wawancara tersebut menjadi media pengenalan lebih lanjut mengenai Josef dan pekerjaannya kepada publik. Hasil wawancara itu akan dibacakan dalam penerimaan penghargaan yang rencananya akan dilaksanakan pada 21 September mendatang di Jakarta.

Josef mengaku tidak menyangka akan menerima tanda kehormatan tersebut. Sebab, ia merasa hanya melakukan tugasnya sebagai dosen. “Saya tidak pernah merasa mengejar prestasi ini,” ungkap guru besar Jurusan Arsitektur ITS itu.

Ia mulai menyukai arsitektur Nusantara ketika diminta mengajar mata kuliah itu pada tahun 1980. Awalnya ia tidak menyukai arsitektur Nusantara, sebab pengetahuan terkait itu sangat minim. Namun, karena ditugasi mengajar materi tersebut, pria berkumis itu terdorong untuk menggali lebih banyak lagi tentang arsitektur Nusantara. “Saat itulah saya menemukan banyak hal yang membuat saya tercengang,” akunya.

Menurutnya, tidak banyak orang yang menyukai arsitektur Nusantara. Bahkan ada yang mengatakan arsitektur Nusantara bersifat mistis dan klenik. Akan tetapi, setelah ia banyak menyelidiki arsitektur Nusantara, dengan tegas ia menyatakan bahwa arsitektur Nusantara tidaklah demikian. Kebanyakan dosen dan mahasiswa lebih suka mengadopsi konsep arsitektur Eropa. Padahal arsitektur Nusantara tidak kalah dengan bangunan berkonsep green and sustainable.

Tidak banyak orang yang mengerti akan hal itu. Karena itulah, Josef selalu berusaha membuka pandangan orang terhadap konsep arsitektur Nusantara. Bagi Josef, sangat penting rasanya untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri. Budaya tidak hanya tercermin dari pakaian dan tari-tarian. Tetapi juga dapat dilihat dari konsep bangunan dan arsitekturnya.

“Biasakanlah mengenakan ciri dan budaya sendiri. Jangan sampai orang lain datang merebutnya,” pungkasnya. (wh)