Dosen ITS Peringkat 1 SINTA Award 2019

Dosen ITS Peringkat 1 SINTA Award 2019

Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam bidang keilmiahan. Kali ini, dosen Teknik Informatika ITS Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD berhasil meraih peringkat pertama Publikasi Ilmiah Kategori Penulis dalam Science and Technology Index (SINTA) Award 2019.

Penghargaan bergengsi di kalangan akademisi dan peneliti nasional ini dianugerahkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohamad Nasir di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/9). Selain meraih penghargaan bergengsi tersebut, ITS sebagai lembaga juga berhasil menyabet peringkat ketiga pada penghargaan Publikasi Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kategori Lembaga di ajang SINTA Award ini.

Ditemui di Departemen Teknik Informatika ITS, Jumat (13/9), Prof Riyanarto Sarno menjelaskan bahwa SINTA Award memberikan penghargaan dengan berbagai kategori tahun ini. “Salah satunya adalah Penghargaan Publikasi Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kategori Penulis yang saya dapatkan ini,” tutur dosen lulusan News Brunswick University, Kanada ini.

Dosen yang akrab disapa Riyan ini juga menjelaskan, banyak hal yang menjadi indikator penilaian dalam penganugerahan ini. Di antaranya terkait jumlah publikasi yang ter-index scopus serta jumlah sitasi oleh google scholar dalam kurun waktu tiga tahun ke belakang. Bersaing bersama 173.971 dosen dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, Riyan berhasil mendulang total nilai 92,17. Nilai ini membuat pria yang memiliki 18 H-index scopus ini unggul di peringkat pertama. Tahun lalu, Riyan masih berada di peringkat tiga di kategori yang sama.

Sementara itu, terkait riset dan publikasi ilmiah, Riyan menjelaskan bahwa riset membutuhkan fokus serta kolaborasi. Menurutnya, kolaborasi yang dilakukan baik oleh dosen atau mahasiswa dengan berbagai mitra di dalam atau luar negeri dapat melahirkan ide-ide penelitian baru. “Iklim penelitian di ITS memang cukup baik, namun kita masih harus berusaha lebih baik lagi,” sebut mantan Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS periode 2007 – 2011 ini.

Maka dari itu, menurut dosen yang salah satu penelitiannya terkait dengan pengembangan mix reality otak untuk persiapan operasi otak ini, semua sivitas akademika ITS harus berbenah. Baginya, mahasiswa ITS harus menempatkan diri bukan sebagai pencari gelar semata, tetapi juga mencari kompetensi diri lewat penelitian dan inovasi. “Selain itu, institusi juga perlu mendorong dengan pemberian insentif kepada para peneliti. ITS serta Kemenritekdikti sendiri telah memberikan dana,” jelas pria berkacamata ini.

Riyan berharap, penghargaan yang telah ia peroleh dapat mendorong peningkatan kultur penelitian yang lebih baik bagi ITS. Karena menurutnya, dasar dari penulisan jurnal ilmiah adalah penelitian. “Maka penelitian untuk menunjang publikasi ini membutuhkan iklim yang kondusif dan meningkat,” tuturnya mengingatkan.

Ia juga berharap, ke depannya akan lahir banyak penulis yang produktif di ITS. Sehingga, lanjutnya, hal ini akan berimbas pada kenaikan peringkat ITS dalam SINTA Award. “Jumlah dosen kita mumpuni untuk mengejar ketertinggalan, kita harus lebih semangat untuk produktif,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng yang ditemui secara terpisah menerangkan, sejak tahun 2018 memang produktivitas publikasi Ilmiah ITS meningkat menjadi 1.400 publikasi. “Yang artinya, dengan kurang lebih 1.000 dosen tetap, angka 1.400 memiliki arti setiap dosennya telah melakukan publikasi minimal satu atau dua,” jelasnya.

Terkait perolehan nilai tersebut, lebih lanjut Rektor kelahiran Sidoarjo ini memaparkan, terdapat sembilan langkah yang dilakukan ITS untuk menghasilkan publikasi sebanyak itu. Yakni, memberikan insentif publikasi dosen, meningkatkan jumlah dana penelitian lokal, meningkatkan kerjasama penelitian, dan mengembangkan skema pendanaan baru dimana skema tersebut akan diarahkan pada publikasi internasional.

“Pengembangan skema pendanaan baru meliputi KP (Kerjasama Penelitian), KMPI (Klinik Makalah Publikasi Internasional), PAP (Program Asisten Peneliti), dan BPUP (Beasiswa Pascasarjana Untuk Peneliti),” sambung dosen yang akrab disapa Ashari ini.

Nantinya, imbuh Ashari, dosen yang jurnalnya berhasil terindeks Scopus akan diberikan pendanaan. Dengan begitu, diharapkan para dosen akan berlomba-lomba melakukan lebih banyak lagi publikasi yang bermanfaat.

Selain itu, menurut Ashari, terdapat pula progam pengembangan dan peningkatan Publikasi Online ITS (POMITS), peningkatan kinerja laboratorium melalui Lab Based Education (LBE), pengembangan program percepatan publikasi perbaikan sistem monitoring dan evaluasi, serta pengefektifan seminar internasional dan jurnal ITS.

“Sembilan langkah tersebut kami lakukan sebaik mungkin, karena peran publikasi ilmiah sangat penting dalam membantu menyebarkan manfaat penelitian ke dunia luar,” beber guru besar Teknik Elektro ini.

Sementara untuk ke depannya, Ashari optimistis bisa menaikkan angka publikasi ITS dari 1.400 menjadi 2.700 pada tahun 2020. “Target ini merupakan wujud kepedulian ITS untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kontribusinya di bidang publikasi, khususnya terkait sains dan teknologi,” tandas Ashari. (wh)