Dorong Perekonomian, Pemerintah Fokus Implementasi Paket kebijakan

Dorong Perekonomian, Pemerintah Fokus Implementasi Paket kebijakan

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, foto: pu.go.id

Pemerintah membentuk empat kelompok kerja (Pokja) untuk mempecepat implementasi dari paket kebijakan ekonomi yang telah diterbitkan sepanjang setahun terakhir. Sebanyak 12 paket kebijakan telah diterbitkan pemerintah guna mendorong percepatan investasi dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono menjelaskan, salah satu fungsi Pokja adalah mensosialisasikan sejumlah kebijakan untuk mendorong masuknya investasi.

“Regulasi yang sudah dibentuk itu mungkin dunia usaha belum banyak yang tahu, jadi perlu dikampanyekan,” kata Basuki usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian, Selasa (7/6/2016).

Selain itu, pemerintah menjanjikan akan mempercepat sejumlah paket kebijakan yang akan terbit guna mendorong percepatan investasi. Setelah paket kebijakan diterbitkan, kini pemerintah fokus untuk menyusunan aturan untuk bisa diimplementasikan di lapangan, seperti  Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), atau Peraturan Menteri (Permen) yang belum selesai.

Yang tidak kalah pentingnya, kata Basuki, adalah melakukan evaluasi dan analisasi dari dampak paket terhadap konsidi perekonomian. Hasil evaluasi dan analisis akan digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit diimplementasikan.

Menurutnya, seluruh paket yang telah diterbitkan, meliputi paket I hingga terakhir paket ke XII akan terus dipantau.  “Hasil rapat terbatas  diputuskan membentuk  pokja-pokja (kelompok kerja). Ini untuk memastikan sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan bisa berjalan,” kata Menteri PUPR.

Untuk mempercepat  proses investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah tengah menyiapkan 26 peraturan, dan diharapkan  bulan ini bisa dituntaskan penyusunannya.

Lesunya perekonomian global telah berdampak pada penurunan laju ekspor komoditas Indonesia seperti minyak sawit (CPO) dan komoditas tambang. Lesunya ekonomi dunia telah menyebabkan ekonomi Indonesia hanya bisa tumbuh 4,92 persen pada kuartal I 2016, jauh di bawah target dalam APBN 2016 yang dipatok 5,3 persen.(wh)