Donald Trump Menang, Partai Republik di Persimpangan Jalan

donald-trump-jpg

Donald Trump mendominasi pemilihan pendahuluan serentak di 12 negara bagian Selasa (1/3/2016) lalu atau dikenal sebagai Super Tuesday, dengan memenangi tujuh negara bagian, unggul empat atas pesaing terdekatnya, dari Georgia hingga Massachusetts.

Kondisi ini  membuat Partai Republik berada di persimpangan jalan. Para petinggi partai itu menemui dua pilihan jalan di depan mereka. Yang pertama, menerima hasil pemilihan calon presiden 2016 yang makin besar kemungkinannya, bahwa Trump akan segera mendapatkan nominasi Parta Republik — dan memberikan restu kepada pengusaha New York itu.

Jalan kedua: menolak kandidat terdepan partai itu, sekaligus juga nilai-nilai dan prinsip yang dia perjuangkan, dan bertekad melawan Trump bahkan meskipun nanti dia mendapatkan nominasi Republik. “Partai ini terpecah, sebetulnya bukan hal aneh bagi partai politik karena mereka akan selalu bersatu lagi. Namun yang satu ini akan menguji batasan lebih jauh tradisi itu,” kata mantan gubernur Minnesota Tim Pawlenty, yang juga menjadi kandidat presiden pada 2012.

“Jika Partai Republik diibaratkan sebuah pesawat dan Anda menatap keluar jendela, Anda akan melihat beberapa serpihan beterbangan, dan bertanya-tanya apakah berikutnya mesin atau sayapnya,” kata Pawlenty, yang memberikan dukungannya untuk Marco Rubio.

Dalam beberapa hari terakhir, muncul berbagai pembicaraan di kalangan ahli strategi dan orang dalam Republik untuk menjauhkan partai itu dari Trump. Pidatonya yang pedas soal kelompok-kelompok minoritas dan imigran sangat mengusik para petinggi partai yang telah bertahun-tahun berusaha merangkul para pemilih keturunan Amerika Latin dan kelompok minoritas lain.

Sebagian dari mereka membahas kemungkinan absen dalam Konvensi Nasional Partai Republik bulan Juli nanti dan mengajukan calon pihak ketiga atau independen dengan tujuan akhir mencegah Trump menjadi presiden.

Salah satu nama yang digadang-gadang adalah Mitt Romney, pemenang nominasi Republik 2012. Meskipun dia sudah mengatakan tak mau ikut pemilihan presiden lagi, namun Romney salah satu yang paling keras menyerang Trump.

Dominasi Trump pada Super Tuesday menegaskan peluangnya sebagai kandidat terdepan partai itu. Awal meroketnya popularitas dia dalam berbagai jajak pendapat beberapa bulan lalu dianggap sebagai fenomena jangka pendek saja. Retorika dia yang bermusuhan dan meledak-ledak tentang berbagai isu mulai soal imigrasi sampai perempuan menimbulkan kritik baik dari kubu Republik maupun Partai Demokrat. Namun pencalonan Trump tak dinyana punya daya tahan dan para suporter dia sangat loyal.

Beberapa hari sebelum Super Tuesday, kejutan di Partai Republik bertambah setelah Gubernur New Jersey Chris Christie memberikan endorsement atau dukungan resmi untuk Trump, setelah dia sendiri mundur dari pencalonan.

Keputusan dia itu lalu diikuti oleh Gubernur Maine Paul LePage dan Senator Alabama Jeff Sessions.

Ketika Trump mulai mendapat dukungan dari para pemimpin partai konservatif itu, gerakan gigih anti-Trump juga menguat.

Mereka yang menentang mengatakan Trump sejatinya bukan seorang konservatif, dan kebiasaannya menggunakan bahasa yang menyinggung perasaan merupakan bukti bahwa dia cuma seorang entertainer yang tak punya peran untuk membentuk masa depan Partai Republik.

Kelompok ini membentuk perlawanan di media sosial dengan tagar “#NeverTrump” — sebuah tekad untuk tidak mendukung Trump, bahkan meskipun dia dinominasikan oleh Partai Republik.

Akhir pekan lalu Trump menambah kontroversi karena tidak menolak dukungan kelompok supremasi kulit putih Ku Klux Klan (KKK) yang disampaikan ketuanya David Duke. “Saya tidak tahu apa-apa tentang David Duke, OK?” kata Trump di CNN saat berulangkali ditanya apakah dia akan menolak dukungan Duke. Setelah wawancara itu, makin banyak petinggi Republik yang terang-terangan menentang Trump.

Minggu malam, Senator Nebraska Ben Sasse menjadi anggota Kongres pertama yang bergabung dalam gerakan #NeverTrump. Kalau Trump memenangkan nominasi Republik, Sasse mengatakan akan mencari alternatif orang ketiga. “Saya tidak akan memilih Hillary Clinton (Partai Demokrat), dan setelah apa yang kami ketahui tentang Donald Trump, saya tidak bisa memilih pria itu juga,” kata Sasse. (cnn/bst)