Dolly Tutup, Produsen Kondom Tak Khawatir

 

Dolly Tutup, Produsen Kondom Tak Khawatir

Penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya tak membuat produsen kondom khawatir.  Salah satunya PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) selaku induk usaha PT Mitra Rajawali Banjaran produsen kondom merek Meong dan Artika .  Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro mengungkapkan penutupan Dolly tak akan banyak berpengaruh terhadap sales kondom perseroan, karena pangsa pasar di Surabaya tak terlalu besar. “Yang paling besar adalah penjualan di wilayah Bali, Manado, Papua, Jawa Barat dan Batam. Untuk wilayah Surabaya tidak terlalu besar,” ujarnya Rabu (18/6/2014).

Menurutnya, yang kemungkinan bakal terpukul adalah produsen kondom lain yang memiliki market share besar di wilayah Jawa Timur. “Kompetitor kami yang pastinya terpukul dengan penutupan Dolly,” lanjutnya.

Selain dijual dengan merek Artika, RNI juga menyuplai kebutuhan kondom untuk pemerintah terkait program Keluarga Berencana. Perseroan juga mengekspor produknya ke Timur Tengah dan Afrika.

Sementara itu, ratusan pekerja seks komersial (PSK) Dolly, Surabaya turun ke jalan. Mereka menolak penutupan Dolly oleh Pemerintah Kota Surabaya.  Ratusan PSK Dolly itu membawa alat-alat dapur seadanya, kemudian dipukul-pukul menjadi alat musik. Aksi dilakukan warga dan ratusan PSK itu digelar sejak pukul 07.00 WIB di jalan masuk Gang Dolly. Mereka memblokir jalan dan membuat jalanan macet total. “PSK tak bisa dikalahkan. Rakyat tak bisa dikalahkan. Tolak menutupan Dolly. Itu adalah lahan kerja kami,” teriak Lita, salah satu PSK yang menutup wajahnya, saat orasi.

Saat menggelar pemblokiran jalan Dukuh Kupang, ratusan PSK itu hanya berjoget dan bernyanyi diiringi musik dari alat dapur yang dibawanya. “Ini adalah bentuk kekuatan kita menolak penutupan Dolly,” teriak salah seorang PSK. (bns/kmp/ram)