Dolar Menguat, Ekspor Jatim Sasar Jepang

Dolar Menguat, Ekspor Jatim Sasar Jepang

Merosotnya nilai tukar Rupiah atas Dolar hingga mencapai Rp 13.200 membuat nilai ekspor di Jawa Timur turut terimbas anjlok. Dibeberkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, M. Sairi Hasbullah bahwa saat ini sedang terjadi pergeseran tujuan ekspor yang semula di negara Uni Eropa sekarang ke negara Asia seperti Jepang.

Kepada enciety.co, Sairi menyebutkan pada Februari lalu tujuan tertinggi ekspor produk non-migas Jawa Timur adalah Jepang yang mencapai USD 209 juta. Disusul Swiss yang mencapai USD 208 juta, Amerika Serikat USD 160 juta, dan Malaysia sebesar USD 82 juta. Sedangkan untuk tujuan Uni Eropa seperti Belanda mengalami kemerosotan 27,14 persen atau USD 28 juta saja.

“Selain Belanda, tujuan ekspor Jerman dan Inggris juga mengalami kemerosotan yang sama dengan hanya mencapai nilaii USD 21 juta saja. Ini yang diperkirakan menjadi penyebab nilai ekpor Jawa Timur pada februari turun hingga 16,4 persen atau hanya USD 1.500 juta saja,” paparnya saat ditemui enciety.co, Rabu (18/3/2015).

Hal yang sama juga terjadi pada nilai ekspor untuk jenis migas yang hanya mampu menorehkan USD 42,35 juta saja. Nilai ini turun 10,7 persen dibanding dengan nilai ekspor pada bulan Januari yang mencapai USD 47 juta dolar. “Jadi sebenarnya saat ini kita menggantungkan pada ekspor non-migas,” jlentrehnya.

Kata Sairi, 10 komoditas utama produk non-migas yang menjadi primadona Jawa Timur adalah perhiasan, lemak, tembaga, bahan kimia organik, kayu, ikan, kertas, furnitur, daging, dan berbagai produk kimia. Tapi rata-rata semua komoditas itu mengalami kemerosotan, kecuali produk Kimia Organik yang justru meningkat menjadi USD 76 juta dolar dari sebelumnya pada USD 71 juta.

Sementara untuk nilai impor pada Februari ditambahkan oleh Sairi juga mengalami penurunan 11,7 persen dibanding dengan impor pada Januari. Pada Februari nilai impor Jawa Timur mencapai USD 1.592,4 juta dan didominasi oleh barang mesin dan alat mekanik. “Itu didominasi impor dari negara China yang mencapai USDH 366 juta,” sambungnya.

Meski demikian, kata Sairi tidak menutup kemungkinan nilai ekspor di Jawa Timur akan terdongkrak lagi pada bulan berikutnya meski nilai mata uang Dolar sedang melambung. Karena disadarinya tidak semua nilai ekspor-impor di kawasan ASEAN menggunakan nilai mata uang dolar. “Kalau ke Jepang kan bisa saja menggunakan Yen dan tidak terimbas dolar,” akhirinya. (wh)