Doktor ITS Temukan Metode Tekan Harga Aspal Asbuton

Doktor ITS Temukan Metode Tekan Harga Aspal Asbuton

foto: humas its surabaya

Aspal Asbuton merupakan salah satu Sumber Daya Alam (SDA) melimpah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara yang penggunaannya masih belum maksimal. Terkait hal itu, mahasiswa doktoral Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zakijah Irfin, berhasil merancang metode yang dapat menekan harga dari Asbuton dalam disertasinya yang dipaparkan pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Aula Oedjoe Djoeriaman Departemen Teknik Kimia ITS, Senin (24/2/2020) lalu.

Dalam disertasinya yang berjudul Pemisahan Bitumen dari Asbuton menggunakan Metoda Modifikasi Hot Water Process, berhasil didapatkan biaya produksi per kilogram Bitumen (Asbuton murni) sebesar Rp 5.233. Harga tersebut dapat lebih murah lagi jika seluruh produksi dilakukan di Pulau Buton sendiri.

Harga tersebut, lanjut Zakijah, juga jauh lebih murah jika dibanding harga aspal minyak yang sering digunakan yaitu sekitar Rp 7.000 – Rp 7.500. Sedangkan harga dari Asbuton semi ekstraksi sendiri memiliki harga tiga sampai empat kali lipat dari aspal minyak.

Oleh karena itu, Zakijah yakin jika harga produk bitumen dari metode Modifikasi Hot Water Process (HWP) cukup bersaing di pasaran. “Hal tersebut juga didukung karena harga dari bahan baku sendiri yang lebih murah,” ungkap dosen Politeknik Negeri Malang tersebut.

Menurut Zakijah, sebetulnya telah terdapat beberapa penelitian pada metode modifikasi HWP pada Asbuton tersebut, namun Zakijah berhasil mengembangkannya dengan menggunakan surfaktan SDBS dan penggunaan sealing agent berupa garam alkali Na5P3O10, Na2SiO3, Na2CO3.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2016, kebutuhan aspal di Indonesia mencapai 1.640 juta ton dan diperkirakan akan terus bertambah. Di samping itu, produksi aspal dalam negeri yang dihasilkan oleh Pertamina dan mitranya hanya sekitar 753 ribu ton atau sekitar 46 persen dari kebutuhan nasional. “Sedangkan kekurangannya sebesar 54 persen masih didapatkan dari impor,” ujarnya.

Namun, seharusnya dengan cadangan aspal alam sekitar 650 juta ton, kebutuhan aspal dalam negeri bisa terpenuhi jika mampu memanfaatkannya dengan maksimal. Dengan memiliki kadar bitumen sebesar 15 – 30 persen, maka bisa diperoleh sekitar 130 juta ton. Berdasarkan jumlah tersebut, perempuan kelahiran kota Malang ini memperhitungkan bila cadangan Asbuton tidak akan habis hingga 79 tahun ke depan.

Oleh karenanya, mahasiswa bimbingan Prof Dr Ir Ali Altway MSc, Dr Ir Susianto DEA, dan Prof Dr Ir Suprapto DEA tersebut berharap agar penelitian ini bisa secepatnya diterapkan dalam skala industri. “Hal ini, juga akan mengurangi jumlah impor Indonesia yang sekaligus akan menghemat penggunaan devisa negara,” pungkasnya. (wh)