Diundang Papua Barat, Wiwit Manfaati Ajari Perempuan Bikin Manik-Manik

Diundang Papua Barat, Wiwit Manfaati Ajari Perempuan Bikin Manik-Manik

Teks : Wiwit Manfaati (dua dari kiri) melatih para perempuan Papua Barat membuat kerajinan kalung manik-manik. foto:ist

Beberapa pekan lalu, Wiwit Manfaati, mentor Pahlawan Ekonomi Surabaya, diundang ke Papua Barat. Ia didaulat menjadi instruktur untuk melatih 60  perempuan yang tergabung dalam PW GKI Klasis Manokwari, Papua Barat, 11-14 Desember 2017.

Banyak pengalaman dan kisah yang diceritakan. Salah satunya, terkait potensi industri kerajinan di Papua Barat yang kurang tertangani secara optimal.

“Padahal mereka memiliki banyak bahan alam yang bisa dijual dengan nilai tinggi,” kata Wiwit kepada enciety.co, Rabu (27/12/2017).

Wiwit datang ke Manokwari atas undangan Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI. Selain dia, ada instruktur lain yang ikut serta, yakni Acik Yuli Triasasi. Acik juga pernah melatih di pelatihan Pahlawan Ekonomi yang dipusatkan di Kaza City Mall.  Satu lagi asisten instruktur, Andriani Puspa. Mereka menempuh penerbangan selama 6 jam dari Surabaya ke Papua Barat, pulangnya menempuh selama 8 jam.

Wiwit mengungkapkan, dari 60 orang yang ikut serta itu dibagi menjadi dua kelompok. Mereka difokuskan untuk membuat aksesoris dari bahan kerang dan karang laut. Masing-masing kelompok harus bisa menyelesaikan produk selama pelatihan.

Diundang Papua Barat, Wiwit Manfaati Ajari Perempuan Bikin Manik-Manik

Kata Wiwit, bahan mentahnya sangat banyak. Cuma, piranti pengolahannya yang belum banyak tersedia, seperti bor tangan dengan obeng bermata kecil, alat pemotong kerang, dan alat hor duduk.

“Sehingga untuk menghasilan kerajinan yang bisa dijual masih susah. Untuk berkreasi dengan begitu banyak bahan alam di sana jadi terhambat,” tandas perempuan yang sukses dengan daur ulang eceng gondok itu.

Ia lalu mengungkapkan, harga kalung manik-manik di Papua Barat cukup tinggi. Rata-rata bisa dijual Rp 150 ribu per buah.  “Padahal kalau di Surabaya gak onok sing nglirik (tidak ada yang tertarik, red),” terang owner Witrov ini.

Pelatihan membuat kerajinan kalung manik-manik ini disambut gembira oleh Marice Pesurnay Kaikatuy, ketua PW GKI Klasis Manokwari, dan peserta pelatihan. Mereka merasa sangat beruntung bisa membuat produk yang layak jual.

“Sangat baik. Mereka menyatakan sangat berterima kasih bisa mendapat bekal ilmu membuat kerajinan,” kata Wiwit, menirukan ucapan Marice Pesurnay Kaikatuy.

Mayoritas peserta pelatihan ini sebelumnya pernah datang ke Surabaya. Mereka ikut pelatihan bersama di Pahlawan Ekonomi Surabaya di Kaza City Mall.

“Makanya, mereka juga titip salam buat Bu Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, red) dan anggota Pahlawan Ekonomi yang sudah banyak peduli kepada mereka,” beber Wiwit.

Pascapelatihan, para peserta pelatihan mendapat pesanan kalung dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI. Jumlahnya 200 kalung. Barang-barang itu dipakai untuk acara peringatan Hari Ibu di Raja Ampat, Papua Barat.

“Di sana, setiap ada acara adat selalu pakai kalung baik yang perempuan atau yang laki laki. Setelah kita balik ke Surabaya, mereka mengaplikasikannya sendiri seperti yang dibuat selama pelatihan,” pungkat Wiwit. (wh)