Ditjen Hubla Uji Petik Kapal Ro Ro

Ditjen Hubla Uji Petik Kapal Ro Ro

Sejumlah kapal Ro Ro yang beroperasi dari dan ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya telah dilakukan uji petik. Itu dilakukan untuk memastikan pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal-kapal Ro Ro, khususnya dalam menghadapi cuaca ekstrim dan gelombang tinggi kurun waktu terakhir.

Selain di Pelabuhan Tanjung Perak, uji petik yang dilakukan oleh Tim yang terdiri dari Marine Inspector Kantor Pusat Ditjen Hubla dan Tim Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) juga dilakukan di empat pelabuhan lain yaitu Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Pelabuhan, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Merak, Banten dan Pelabuhan Lembar, NTB yang  dimulai sejak hari Jum’at, 17 Januari 2014.

Uji petik yang dilakukan secara acak, sampai dengan saat ini telah melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal-kapal Ro Ro terhadap 11 kapal penumpang. Hasilnya, tim uji petik hanya menemukan kekurangan pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal yang bersifat minor.

Pada kesempatan tersebut, Tim uji petik tidak menemukan pelanggaran atau kekurangan pemenuhan terhadap standar keselamatan kapal yang menyebabkan kapal Ro Ro tersebut tidak dapat melanjutkan pelayarannya. Namun demikian, tim uji petik tetap memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi untuk segera dilengkapi dan diperbaiki.

Sebagai contoh, pada saat uji petik di Pelabuhan Tanjung Priok, Tim Uji Petik menemukan masih adanya pintu kedap air pada main deck/car deck tidak dapat ditutup dengan rapat/kedap, ramp door pada buritan kapal tidak tertutup dengan baik, rescue boat tidak dilengkapi dengan poster cara penurunan  serta pintu menuju kamar mesin tidak dilengkapi daun pintu. Di Pelabuhan Merak, Tim Uji Petik menemukan kekuarangan yang bersifat minor seperti kurangnya familiarisasi terhadap penggunaan alat-alat kebakaran dan keselamatan.

“Terhadap semua kekurangan yang ditemukan tersebut, tim memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi untuk perbaikan ataupun untuk segera melengkapinya sehingga  kapal- kapal Ro Ro dimaksud dapat melanjutkan pelayarannya,” jelas Dirjen Perhubungan Laut Capt Bobby R Mamahit dalam siaran pers yang diterima Radar Surabaya, Selasa (21/1).

Selain melihat kesiapan operator kapal Ro Ro, dalam menghadapi cuaca esktrim dan gelombang tinggi yang bisa mengancam keselamatan pelayaran di seluruh perairan Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut secara rutin juga mengeluarkan Maklumat Pelayaran.

Maklumat ini dikeluarkan sebagai tindak lanjut peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap awal minggu yang menginformasikan terjadinya angin kencang, hujan lebat disertai petir, serta gelombang tinggi di Perairan Indonesia.

Maklumat Pelayaran tersebut ditujukan kepada para Syahbandar, Kepala Kantor Pelabuhan Batam dan Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan, Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai, Kepala Distrik Navigasi serta Kepala Kantor Stasiun Radio Operasi Pantai seluruh Indonesia yang intinya adalah memerintahkan agar para aparat Perhubungan Laut di lapangan untuk mengutamakan keselamatan dalam kegiatan Pelayaran dan selalu siaga jika sewaktu-waktu  terjadi kecelakaan di laut.

Dalam Maklumat Pelayaran Nomor. 38/I/DN-14  tgl  20 Januari 2014, disampaikan bahwa. pada tgl 20 Januari 2014 s.d. 26 Januari 2014 akan terjadi angin kencang dan hujan lebat yang di sertai petir dan gelombang tinggi di perairan Indonesia, yakni:

a. Gelombang tinggi 2,0 m s.d  3,0 m akan terjadi  di perairan aceh, perairan sulawesi tengah, perairan utara gorontalo, perairan sulawsi utara, perairan kep. Sangihe, laut buru, laut maluku, laut halmahera, laut banda bagian utara, perairan ambon, perairan sorong dan perairan manokwari;

b. Gelombang tinggi 3,0 m s.d 4,0 m akan terjadi di perairan pulau enggano, perairan lampung, selat sunda bagian selatan, perairan selatan banten hingga jawa tengah, laut andaman, laut jawa bag barat, perairan selatan jawa timur, perairan kalimantan bagian selatan, perairan bali dan nusa tenggara barat, laut timor, perairan sulawesi tenggara, perairan kep. Talaud, perairan kep. Kai, kep. Aru, laut aru, perairan kep. Talaud, perairan morotai, samudera pasifik bag utara halmahera hingga bag utara papua;

c. Gelombang tinggi 4,0 m s.d 5,0 m akan terjadi di laut cina selatan, laut natuna, perairan, kep.natuna, perairan kep. Anambas, perairan kep. Riau, perairan jambi, selat karimata, perairan kep. Bangka belitung, perairan kalimantan bagian barat, laut jawa, perairan masalembu, selat makassar bagian selatan, perairan sulawesi selatan bag selatan, laut sulu, perairan selatan pulau sumba, perairan kupang, laut sawu, perairan pulau rote, perairan nusa tenggara timur, laut flores, laut banda bag selatan, perairan kep. Babar dan kep. Tanimbar, laut arafura, perairan timika, perairan pulau yos sudarso dan perairan merauke.

Terkait dengan hal tersebut diatas, Dirjen Hubla menginstruksikan kepada para Syahbandar di seluruh Indonesia agar dalam menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar bagi kapal-kapal untuk selalu mengutamakan dan memperhatikan faktor-faktor keselamatan pelayaran dan tetap berpedoman pada : kelaiklautan kapal, kelengkapan alat keselamatan pelayaran seperti sekoci penolong, rakit penolong (inflatable liferaft) dan baju penolong harus dipastikan dapat berfungsi dengan baik dan jumlahnya cukup, radio komunikasi harus berfungsi baik, dan jumlah penumpang/muatan tidak melebihi kapasitas yang diizinkan.

Para Syahbandar juga dilarang mengizinkan kapal Ro Ro berlayar bila tidak memenuhi hal-hal tersebut di atas. Bagi para kepala Distrik Navigasi maupun Kepala Stasiun Radio Pantai juga diperintahkan untuk selalu siaga pada radio frequency marabahaya. Bagi para kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai agar selalu siaga jika sewaktu-waktu dikerahkan dalam menghadapi keadaan darurat di laut. (wh)