Ditanya Siswa SD Kenapa Marah-Marah, Ini Jawaban Risma

 

Ditanya Siswa SD Kenapa Marah-Marah, Ini Jawaban Risma

“Siapa yang senang punya teman? Siapa yang senang punya musuh?” goda perempuan berkerudung hitam itu sambil mengacungkan telunjuknya. Para siswa lantas cekikikan, ragu antara mengangkat tangan atau tidak. “Hayo, masak ada yang senang punya musuh? Nggak kan ya?” celetuk perempuan itu lagi.

Dialah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Selain terjun langsung mendengarkan keluhan warga, Risma punya rutinitas yang sulit ditinggalkan. Yakni memberikan pembekalan motivasi kepada pelajar Surabaya. Rabu (28/5/2014) pagi, ia menyuntikkan semangat kepada ratusan siswa SD YPPI I, Dharmahusada. Walau sering memperlihatkan sikap tegas dalam menyikapi masalah kota Pahlawan, Risma mendadak sumringah dan humoris saat berhadapan dengan anak-anak.

“Kalian harus baik dengan teman-teman kalian. Punya teman harus banyak, karena nanti saling membutuhkan. Nggak semua orang bisa segala hal, lo,” tutur Risma lembut. Bocah-bocah terlihat tidak percaya. Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu lalu melanjutkan nasihatnya. Ia memberikan contoh seandainya para siswa itu kelak menuntut ilmu di luar negeri.

“Nanti kalau kalian belajar di luar negeri, hidup di negeri orang, jauh dari orang tua. Terus kalau nggak punya teman banyak, bisa nggak mbenerin laptop sendiri kalau nggak minta bantuan teman?” tanya Risma. Perempuan 52 tahun itu memberikan gambaran, bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama. Sehingga mereka harus mampu bekerja sama dan saling menolong. “Kayak Ibu ini, nggak bisa Fisika. Tapi jago matematika. Orang itu beda-beda. Ada yang satunya pinter bahasa Inggris, ada yang pinter basket, voli,” tukasnya disambut gelak tawa para siswa.

Tiba di sesi tanya-jawab, seorang siswa SD kelas 5 mengajukan pertanyaan yang menggelitik. “Bu Risma, kemarin itu kenapa kok marah-marah pas acara es krim itu lo bu. Aku lihat di TV,” tanya Joell polos. Mendengar itu, Risma tak mampu menyembunyikan senyum lebarnya. “Kamu kok tahu aja?” sahutnya sambil merangkul bocah bertubuh tambun tersebut.

Alumnus Manajemen Pembangunan Kota itu kemudian menjelaskan soal amarahnya akibat Taman Bungkul dan jalur hijau yang hancur. “Ya kita ndak boleh merusak taman. Karena selain untuk keindahan, taman juga bermanfaat untuk kesehatan,” papar Risma. Tanaman dalam taman kota tersebut, sambungnya, menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia bernafas. “Makanya waktu taman itu rusak, ya ibu marah. Mengerti, sayang?” pungkasnya. (wh)