Distribusi Kotak dan Bilik Suara Jatim Tuntas

Distribusi Kotak dan Bilik Suara Jatim Tuntas

 

Kebutuhan kotak dan bilik suara sudah terdistribusi 100 persen di Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten/kota di Jatim. Baik kotak dan bilik suara tersebut merupakan tambahan yang terbuat dari kertas karton.

“Distribusi logistik masih dilakukan bertahap. Logistik yang sudah 100 persen sampai di KPU kabupaten/kota adalah kotak dan bilik suara. Kotak dan bililk suara tambahan ini dari kertas karton. Kalau yang lama dari aluminium,” ujarnya.Hayu Shinta, Komisoner KPU Jatim Divisi Perencanaan, Keuangan, dan Logistik.

Dia menjelaskan, kotak suara tambahan yang didistribusikan sebanyak 30.949 buah. Jumlah itu setara dengan 9 persen dari kebutuhan total di Jatim yang berjumlah 340.296 kotak suara. Kotak suara tambahan itu didistribusikan untuk 16 kabupaten/kota. Di antaranya adalah Tulungagung, Kediri, Malang, Madiun, Nganjuk, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Sedangkan bilik suara tambahan yang didistribusikan sebanyak 61.247 buah atau setara dengan 17 persem dari total kebutuhan bilik suara yang sejumlah 341.619 buah. Bilik suara tambahan itu didistribusikan untuk 19 kabupaten/kota, di antaranya Tulungagung, Kediri, Blitar, Lumajang, dan Jember.

“Kotak dan bilik suara tambahan yang kertas karton ini untuk TPS perkotaan atau tempat yang mudah dijangkau. Kalau daerah terpencil atau rawan akan dipakai kotak dan bilik lama yang terbuat dari aluminium,” ujarnya.

Terkait dengan surat suara, ia mengatakan seluruh kabupaten/kota sudah menerimanya. Namun memang masih ada yang belum lengkap. Diantaranya adalah Kabupaten Pasuruan yang sampai sekarang belum menerima surat suara untuk DPRD kabupaten/kota.

“Jumlah surat suara rusak masih kami rekapitulasi. Beberapa hari lagi baru bisa kami umumkan,” ujarnya.

Komisi II DPR RI melakukan kunjungan ke Kantor KPU Jatim menanyakan kesiapan Pemilu Legislatif (pileg) tahun 2014. Dasar dari kunjungan itu dikarenakan seluruh komisioner KPU Jatim saat ini masih baru. Terlebih lagi, di pilihnya Jawa Timur dikarenakan merupakan barometer politik nasional.

Anggota Komisi II KPU RI Rindoko Dahono Wingit menjelaskan bahwa proses pileg sudah berlangsung sebelum rekrutmen anggota KPU Jatim. Dengan tidak adanya komisioner yang lama, pihaknya sangat resah. “Mengenai tanggung jawab logistik. Ini khan ada peralihan dari komisioner yang lama ke yang baru. Tentu kita sangat resah apakah proses peralihan itu, berjalan lancar,” kata Rindoko seperti dilansir kominfo.jatimprov.go.id.

Ini mengacu pada KPU Kalimantan Timur yang komisionernya juga baru. Mereka baru dilantik 2 bulan yang lalu. Dampaknya, proses pileg menurutnya berlangsung amburadul.

“Untunglah di Jawa Timur lebih baik daripada di Kaltim yang amburadul. Di sini komisionernya terlihat kompak. Khusus mengenai logistik amburadul tidaknya khan juga di pengaruhi hubungan dan komunikasi antar komisioner,”paparnya

Lebih lanjut, politisi dari Fraksi Gerindra ini menegaskan bahwa mengenai logistik seperti segel surat suara, ia akan berkoordinasi dengan KPU RI agar secepatnya bisa selesai. Sedangkan, mengenai logisltik yang lainnya, pihaknya berharap agar segera terdistiribusi ke KPU Kabupaten/kota.

“Hasil hearing ini nantinya akan kita kaji ulang dan memberikan rekomendasi kepada KPU RI selaku mitra kerja dari komisi II DPR RI,” ujarnya

Selain itu, Rindoko juga mengomentari soal kemungkinan adanya Penyimpangan-penyimpangan yg terjadi dengan sistem suara terbanyak. Ini lantaran pertarungannya sangat ketat. Tidak hanya caleg di eksternal partai melainkan juga pertarungan di internal partai.

“Kerasnya pertarungan memperebutkan kursi di legislative memungkinkan peluang terjadinya praktik money politic sangat masif,” tuturnya. (wh)