Dispendik Diminta Kuatkan Psikologi Siswa saat Hadapi Unas CBT

Dispendik Diminta Kuatkan Psikologi Siswa saat Hadapi Unas CBT
(dari kiri) Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Martadi bersama Kepala Dispendik Surabaya, Ikshan, dan Ismaini Zain Akademisi dari ITS Surabaya.

Jelang diselenggarakannya Ujian Nasional (Unas) berbasis computer based test (CBT) di Surabaya, Dewan Pendidikan Surabaya meminta agar Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya lebih aktif mendampingi siswa. Terutama untuk menguatkan psikologi saat siswa melaksanakan Unas berbasis CBT yang baru pertama kalinya diberlakukan di Indonesia.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya Martadi menjelaskan, faktor terpenting saat dihadapi para siswa adalah faktor psikologi. Ini karena siswa tingkat SMA dan SMK se-Surabaya kali pertama melakukan Unas berbasis CBT, meski mereka sudah terbiasa dengan teknologi komputer.

“Kalau siswa di Surabaya penyiapannya relatif tidak berat. Karena siswa juga sudah bisa mengoperasikan dan sudah sering melakukan ujian CBT. Justru dengan ujian online itu jauh lebih mudah dibandingkan manual. Namun persoalannya, saat Unas CBT nanti apakah mental siswa sudah benar-benar siap?” tegasnya kepada enciety.co, Senin (23/3/2015).

Selain faktor psikologi yang harus dihadapi siswa, Martadi juga mengingatkan tentang kesiapan Dispendik Surabaya dalam melaksanakan Unas CBT secara serentak. Ini karena dispendik juga harus menyiapkan ribuan komputer dan tenaga pengawas saat Unas dilangsungkan.

“Saya melihat Dispendik sudah lebih siap. Kira-kira 80 persen Unas CBT sudah siap, karena Dispendik Surabaya juga melibatkan perguruan tinggi. Jadi beban tugas Dispendik ini lebih berat dibanding tahun sebelumnya, karena harus mengawasi dari proses kecurangan sekaligus menyediakan infrastruktur yang memadahi,” imbuhnya.

Di Surabaya sendiri, Dispendik harus menyiapkan 12.206 unit komputer atau sepertiga dari total 36.618 siswa SMA dan SMK yang melaksanakan Unas CBT. Itu terdiri dari 54 sekolah SMA dan SMK. Jumlah ini menurun dari target semula, lantaran Unas CBT untuk siswa SMP dibatalkan dan akan diberlakukan pada tahun depan.

“Kalau misalnya dalam satu sekolah ada 300 siswa SMA kelas X, maka dibutuhkan 100 unit komputer dan ditambah 10 unit komputer untuk cadangan. Ini sesuai instrukti Kementerian Pendidikan yang beberapa waktu lalu datang ke Surabaya untuk meninjau kesiapan Surabaya,” tambahnya.

Selain itu, hal yang perlu diwaspadai adalah mengantisipasi adanya kerusahakan soal meski online, tertukar, dan matinya jaringan listrik serta network local area yang digunakan untuk pelaksanaan Unas CBT.

“Istilahnya karena ini baru kali pertama, maka kita harus mengantisipasi,” pungkasnya. (wh)