Disnaker Jatim Bidik Ekspor Ayam dan Telur Broiler

 

Disnaker Jatim Bidik Ekspor Ayam dan Telur Broiler

Dinas Peternakan Jatim mengiring pelaku usaha peternakan ayam broiler dan telur ayam broiler besar untuk memulai merintis ekspor kedua komoditas tersebut ke sejumlah negara. Langkah ini harus dilakukan mengingat pasar dalam negeri sudah jenuh.

“Pasar ayam dan telur ayam broiler dalam negeri saat ini sudah jenuh, harus melakukan terobosan agar kedua komoditas tersebut tidak jatuh harganya, seperti ekspor ke Timur Tengah dan Jepang,” kata Kepada Dinas Peternakan Provinsi Jatim Maskur di Surabaya, Minggu (21/10/2014).

Kejenuhan pasar ini bisa dilihat dari rendahnya harga daging ayam broler yang terbentuk semana ini. Di pasaran, harga hanya dikisaran Rp 26.000 per kilogram, sementara di tingkat peternak, harga tidak sampai Rp 16.000 per kilor berat hidup. Harga tersebut menurut Maskur masih jauh dari Break Event Poin (BEP).

“Baru-baru ini saja harga bergerak naik setelah kami bersama peternak melakukan berbagai upaya. Makanya kami berupaya mendorong pengusaha besar untuk melakukan ekspor,” ujar dia.

Walaupun sebenarnya untuk melakukan ekspor itu tidak mudah karena Indonesia belum terbebas dari penyakit unggas Afian Influenza (AI). Indonesia, baru menargetkan terbebas dari penyakit AI pada tahun 2020, sementara Jatim sendiri menargetkan terbebas dari AI pada tahun 2019. Tetapi hal itu menurutnya bisa disiasati dengan “Sistem Kompartemen”.

Pengusaha peternakan besar bisa mengurus sertifikasi bebas penyakit dengan syarat harus pelakukan budidaya ternak ayam brioiler terintregasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, pakan hingga penggemukan dilakukan dalam satu lingkungan yang terisolasi dan terbebas dari penyakit.

“Kami terus mendorong pengusaha di Jatim agar mau melakukannya. Tetapi sejauh ini mereka masih enggan karena besarnya biaya dan rumitnya proses yang harus dijalani,” paparnya.

Langkah tersebut menurut Maskur sudah mulai dilakukan oleh peternakan besar di Jawa Barat. Ada sekitar dua peternakan di Jabar yang telah mendapatkan sertifikasi bebas penyakit dan bisa melakukan ekspor ke sejumlah negara. Sementara di Jatim, sebenarnya sekitar 10 perusahaan yang cukup potensial untuk bisa melakukan sertifikasi.

“Ini harus mulai dilakukan agar pasar bisa berkembang. Apalagi produksi ayam dan telur ayam broiler Jatim cukup besar,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, produksi ayam broiler dan telur ayam broiler di seluruh wilayah Jatim cukup besar. Produksi ayam mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, sementara telur ayam broiler juga mencapai sekitar 25 juta ton per tahun.

Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan industri di Jatim, produksi tersebut juga didistribusikan ke sejumlah daerah seperti Kalimantan, Sulawesi dan Kalimantan.

“Hampir seluruh daerah di wilayah Jatim menjadi produsen kedua komoditas tersebut. Terbesar Blitar, Tulungagung, Kediri, Malang, Jombang, Lamongan dan Mojokerto,” katanya. (wh)