Disnak Jatim Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Konsumsi

Disnak Jatim Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Konsumsi

Lonjakan kebutuhan konsumsi jelang Ramadhan dan Lebaran telah diantisipasi oleh Dinas Peternakan Jawa Timur. Salah satunya dengan penyiapan produksi telur ayam broiler, daging ayam broiler dan daging sapi.

Ketiganya telah disiapkan untuk sebesar 39.570 ton daging ayam boriler, 220.093 ton untuk telur ayam broiler, dan daging sapi 39.637 ton. Ketiga komoditi ini dipersiapkan untuk menyongsong bulan puasa hingga Lebaran atau sepanjang Juni hingga Agustus.

Kepala Dinas Peternakan, Maskur kepada wartawan, Jumat (13/6/2014), menyebutkan konsumsi ini dianggap mencukupi selama tiga bulan ke depan. “Upaya kita adalah meningkatkan produksi disentra-sentra pembibit baik telur maupun daging  ayam dan daging sapi, agar stok kebutuhan tetap terjaga. Selain itu juga untuk menekan inflasi pada bulan Ramadhan dan Lebaran nanti,” urainya.

Maskur menegaskan, jumlah ketiga komoditi ini dianggap aman meski kontribusi terhadap daerah lain juga tinggi. Sebut saja DKI Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Papua juga memasok ketiga komoditi ini dari Jawa Timur.

Sepanjang tiga bulan kedepan ini, kebutuhan untuk bulan Juli menempati urutan tertinggi kebutuhannya. Untuk telur ayam broiler estimasi kebutuhan bulan Juli mencapai 118.127 ton. Demikian juga dengan daging ayam broiler estimasi kebutuhannya 97,132 ton, dan daging sapi 26.441 ton.

Pasokan ketiga komoditi ini diharapkan juga bisa menekan inflasi yang diperkirakan akan terjadi pada awal bulan puasa hingga setelah Lebaran. Kalaupun ada lonjakan harga, saya perkirakan tidak lebih dari 10 persen. Posisi saat ini lonjakan harga masih normal,” ungkapnya.

Untuk telur ayam broiler sendiri harga dipasaran berkisar Rp 18.000/ kg, daging ayam broiler Rp 26.000/ kg, sedangkan daging sapi relatif stabil antara Rp 85.000-Rp90.000. Untuk daging sapi sendiri ditaksir mencapai Rp 100.000/ kg pada tiga hari jelang Lebaran hingga tiga hari pasca Lebaran.

Diknas Jatim menganggap wajar terjadi lonjakan harga yang berdampak pada inflasi, pada momen-momen keagamaan. Seperti bulan puasa hingga Lebaran, dan Natal. “Tetapi setelahnya harga akan kembali normal,” tegasnya. (wh)