Direktur Facebook Apresiasi Transformasi Pelaku Usaha PE

Direktur Facebook Apresiasi Transformasi Pelaku Usaha PE

Victoria Grand memberikan sambutan saat menghadiri A to Z Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda di Kaza City Mall. foto: arya wiraraja/enciety.co

Rona keceriaan menghias di rona Victoria Grand. Perempuan yang menjabat Global Policy Program Director of Facebook itu, kerap melempar senyum gembira. Ia benar-benar menikmati perkembangan pesat pelaku usaha di Surabaya.

Victoria Grand datang di Kota Pahlawan, Kamis (26/10/2017) lalu. Dia tidak sendiri, ikut mendampingi Dessy Sukendar dari Associate Consultant PCS Pte Ltd dan Ajie Ahmad dari tim trainer Facebook.

Pagi itu, Victoria bertemu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Kediaman Wali Kota Surabaya, Jalan Sedap Malam. Belum jenak duduk, perhatian Victoria tiba-tiba tertuju pada deretan produk-produk handicraft, batik, souvenir di sudut ruangan.

“Ini semua produk pelaku usaha Pahlawan Ekonomi (PE). Saya sengaja memajangnya dan memasarkannya di sini,” kata Risma menerangkan kepada Victoria.

Risma lalu memperkenalkan para pelaku usaha Pahlawan Ekonomi yang telah yang sukses. Di antaranya Diah Arfianti (Diah Cookies) yang meraup omzet Rp 1,6 miliar per tahun dengan keuntungan Rp 600 juta. Hampir 80 persen pemasarannya melalui digital media. Dia memiliki 7 agen dan 50 reseller yang tersebar di beberapa daerah. Pelanggannya kini bukan hanya di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia, tapi juga di Filipina, Inggris, Canada, dan USA.

Ada lagi Choirul Mahpuduah (Pawon Kue). Dia mantan aktivis buruh pabrik yang di-PHK akibat membela hak-hak buruh perempuan. Dia kemudian mendirikan Kampung Kue Tradisional (komunitas produsen jajan pasar) di daerah Rungkut, karena melihat peluang rekan-rekan buruh tidak sempat sarapan kalau pagi. Dia merintis usaha baru cookies, seperti almond crispy. Setelah ikut Tatarupa, dengan kemasan dan branding lebih baik, harga produk bisa naik dari Rp 35 ribu menjadi Rp 55 ribu. Usahanya makin meroket setelah ia tidak hanya berjuan offline, tapi juga memanfaatkan digital marketing.

Pelaku usaha lain Monica Harijati Hariboentoro (MJ Bakery). Dia awalnya perajin clay. Namun usahanya justru membesar setelah dia ikut pelatihan membuat kue di Pahlawan Ekonomi, setelah 3 bulan mendapatkan sms undangan pelatihan membuat roti. Monica belajar mulai nol membuat roti. Tak terhitung berapa kali ia gagal. Tapi berkat ketekunan, perempuan ia bisa membuat produk berkualitas yang dijual di ritel modern. Sudah melahirkan 70 varian roti dan kue, termasuk produk non gluten dan strudel serta klapertaart. Hampir 50 persen penjualannya melalui digital marketing, Facebook dan instagram. Khusus klapertaart transaksi tiap hari, bisa mencapai 50 buah.

Rata-rata, Bu Monic bisa meraup omzet Rp 50 juta sebulan. Usahanya ini juga bukan hanya berhasil mengajak suaminya untuk berusaha clay, namun juga kedua anaknya berbisnis cookies dan nasi remix.