Dinkes Surabaya Monitoring Penderita HIV/AIDS di Eks Lokalisasi

Dinkes Surabaya Monitoring Penderita HIV/AIDS di Eks Lokalisasi

Kadinkes Kota Surabaya drg Febria Rachmanita memberikan keterangan pers di humas Pemkot Surabaya, Rabu (3/5/2017).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya getol memonitor beberapa eks lokalisasi untuk menekan pengidap HIV/AIDS. Dengan monitoring berkelanjutan menyebabkan penurunan penderita HIV/AIDS di eks lokalisasi.

“Tahun 2014 penutupan lokasi, ada 935 pengidap HIV, turun menjadi 933 orang pada 2015 dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang. Penurunan tersebut salah satunya karena adanya upaya kami untuk memulangkan wanita tuna susila ke daerah asalnya. Karena memang, mayoritas pekerja dunia hitam ini berasal dari luar Surabaya,” tegas drg Febria Rachmanita saat jumpa pers di ruang Humas Pemkot Surabaya, Rabu (3/5/2017).

Sedangkan berdasarkan wilayah bekas lokalisasi, untuk eks lokalisasi Sememi yang dulunya 57 orang, kini menjadi 5 orang, Dupak Bangunsari dari 68 orang menjadi 4 orang. Serta di eks lokalisasi Dolly dari 110 menjadi 36 orang.

Jumlah tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan di Puskesmas dan juga hasil razia yang dilakukan Satpol PP di kawasan eks lokalisasi ataupun di kos-kos an yang awalnya positif narkoba kemudian kami tes HIV.

“Tidak semuanya merupakan WTS, ada juga ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar juga seniman,” urainya.

Selain memonitor kawasan eks lokalisasi, juga dilakukan pemeriksaan kepada ibu hamil serta elakukan penyuluhan di kelurahan dan juga tempat-tempat umum seperti terminal.

“Kami juga meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV,” jelasnya.

Berdasarkan data tersebut, jumlah penyandang HIV di Surabaya memang terbilang masih cukup tinggi. Dan itu tidak lepas dari fakta banyaknya jumlah penduduk Surabaya serta semakin bertambahnya warga pendatang. Apalagi, dari hasil temuan, jumlah warga Surabaya dan luar Surabaya adalah 1 berbanding 10.

“Semakin banyak penyandang HIV ditemukan, itu berarti surveillance (pengawasan) kita bagus. Dan yang terpenting adalah kami terus melakukan pendampingan dengan dipantau minum obatnya atau bisa kita rujuk ke rumah sakit ,” jelas pejabat yang juga dokter gigi ini.

Di Surabaya ada sembilan rumah sakit untuk melakukan pengobatan pengidap HIV. Diantaranya RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Unair. Serta ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro.

“Itu untuk pengobatan ARF (Anti Retrofarial). Kalau untuk pemeriksaan sudah bisa ke seluruh Puskesmas. Kami punya 63 Puskesmas dan kami punya data plus alamat penyandangnya,” papar dia. (wh)