Dinas Pertanian Jatim Catat Kenaikan Kontribusi Nasional 3 Komoditas

Dinas Pertanian Jatim Catat Kenaikan Kontribusi Nasional 3 Komoditas

Bagus Adhirasa. foto: arya wiraraja/enciety.co

Dinas Pertanian Jawa Timur mencatat kenaikan nilai kontribusi nasional pada hasil pertanian tanaman pangan padi, jagung, dan kedelai sepanjang 2019. Untuk padi, pada 2018 tercatat nilainya 18,6 persen atau meningkat menjadi 19 persen pada 2019. Untuk jagung ada kenaikan 2 persen pada 2018 yang nilainya 21,8 persen, meningkat 22,31 persen pada 2019.

“Yang signifikan kedelai. Di 2018 nilainya 25,3 persen, lalu pada 2019 angkanya meningkat menjadi 33 persen,” ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur Bagus Adhirasa, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (14/2/2020).

Bagus mengatakan, kondisi curah hujan normal atau 63 persen di Jawa Timur terjadi mundur pada Desember 2019-Januari 2020. Artinya masa tanam yang dilakukan petani juga makin mundur. Faktor ini memengaruhi waktu panen petani.

Menurut Bagus, diprediksi sampai April mendatang, Jatim akan panen tanaman pangan sekitar 804 ribu ton. Sedangkan padi sekitar 346 ribu hektar. Dari hasil itu akan ada sekitar 33 juta ton gabah dan 2,1 juta ton beras.

“Untuk prediksi pada periode panen pertama 2020 ini nilai konsumsi beras kita mencapai 1,4 juta ton. Dengan kata lain, Jatim akan mengalami surplus beras sekitar 751 ton beras,” tegasnya.

Bagus juga menjelaskan perkiraan luas panen jagung yang diprediksi mencapai 545 ribu hektar. Dari nilai tersebut, minimal ada 2,4 juta ton jagung titilan kering yang siap dikonsumsi. Perlu diketahui, komoditas jagung sendiri ini hampir 95 persen diserap industri pakan ternak.

Sedangkan untuk kebutuhan pakan ternak ini setiap bulannya mencapai 600 ribu ton jagung setiap bulannya. Dengan kata lain terkait jagung Jatim mengalami surplus sekitar 1,3 juta ton diperiode panen pertama tahun 2020.

“Terkait dengan waktu panennya. Jagung ini lebih cepat atau sekitar bulan Maret, karena waktu tanamnya juga lebih duluan. Untuk itu kami berharap pelaku industri pakan ternak ini bisa bersiap untuk menyerap hasil panen ini dari petani,” urai Bagus.

Sedangkan untuk panen kedelai diprediksi mencapai 4 ribu ton pada bulan April 2020. Menurut Bagus, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019. Terkait komoditas kedelai ini, Dinas Pertanian berharap ada semacam dorongan.

“Selama ini yang menjadi kendala adalah ekspektasi pasar yang cukup tinggi untuk kedelai. Nilai Harga Pokok Penjualan (HPP) kedelai kita mencapai Rp 8,5 ribu. Sedangkan kedelai impor nilainya bisa Rp 7 ribu. Hal inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah kita ke depan,” kupas dia. (wh)