Dimentori Diah Cookies, UKM PE Genteng Bentuk Kelas Medsos

Dimentori Diah Cookies, UKM PE Genteng Bentuk Kelas Medsos

foto:diah arfianti

Libur pelatihan tak membuat pelaku usaha Pahlawan Ekonomi (PE) berleha-leha. Mereka tetap bersemangat belajar dan mencari peluang untuk menaikkan omzet jelang tutup tahun 2019.

Seperti yang dilakukan pelaku usaha PE Kecamatan Genteng, Surabaya. Mereka membentuk kelompok kecil yang fokus mengoptimalkan media sosial (medsos) untuk promosi dan jualan.

Diah Arfianti, owner Diah Cookies, ditunjuk sebagai mentor. Diah adalah pelaku usaha sukses asal Kecamatan Genteng. 70 persen omzet penjulan diperoleh dari jualan online. Diah menjadi salah satu endorser Facebook dalam program #SheMeansBusiness.  

“Pertemuannya diadakan sebulan sekali. Kami ingin belajar bersama, maju bersama, sukses bersama. Bekerja sama, bukan sama-sama kerja,” tutur Diah, Selasa (24/12/2019).

Beberapa materi yang diajarkan dalam mentoring kelas medsos ini di antaranya, mindset, belajar karakter orang, optimasi sosmed, konsistensi lapkeu. menentukan target pasar dan strateginya, dan copywriting.

Peserta yang ikut dalam pelatihan dibatasi tak lebih 10 orang. Mereka yang belajar juga ada komitmen fee sebesar Rp 100 ribu. “Uang ini dipegang ketua kelompoknya. Tujuannya biar para UKM serius. Tidak main-main, mau mengerjakan tugas, dan konsisten,” tandas perempuan berjilbab ini.

Dimentori Diah Cookies, UKM PE Genteng Bentuk Kelas Medsos
foto:diah arfianti

Komitmen tersebut, sebut Diah, juga diwujudkan dengan punishment yang akan diberlakukan bila peserta tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan mentor.

“Kalau PR-nya gak dikerjakan akan di-kick off dari grup. Uang komitmen fee-nya akan kita sedekahkan. Yang memberikan sedekah mereka yang kena hukuman,” tandas Diah.

Masih ada lagi, kata Diah, denda sebesar Rp 50 ribu apabila telat hadir di pertemuan. Hal ini untuk mendisiplinkan peserta. Karena sebagai pengusaha, waktu sangat berharga. Mereka yang tidak menghargai waktu akan tergerus oleh persaingan yang makin keras.

Menurut Diah, perserta yang ikut kelompok ini sebagian masih fokus berjualan offline. Mereka ingin merambah pasar online namun belum banyak tahu harus mulai dari manan dan seperti apa.

Hasil dua kali pertemuan cukup menggembirakan. Pasalnya, peserta bisa merasakan dampaknya setelah ikut pelatihan bareng Diah Cookies. Seperti pengakuan Seta yang jualan pangsit vasta. Follower IG-nya naik tiga kali lipat setelah menerapkan tips dan trik yang diajarkan Diah Cookies.

“Saya diwajibkan posting setiap hari. Awalnya masih ada stok foto-foto. Lama-lama habis. Saya berusaha memenuhi itu. Hasilnya bagus. Sekarang pengiriman barang di Siola selalu habis,” aku dia.

Hal senada dirasakan Rita. Perempuan yang menjual pizza. Selama ini, ia jarang posting karena sulit membuat copywriting.

“Alhamdulillah, setelah diajari Bu Diah saya sudah rutin posting. Follower IG saya bertambah. Senangnya lagi, ada yang pesan dari Jawa Tengah,” aku Rita. (wh)