Dihadang Massa, Plakat Eks Lokalisasi Dolly Batal Dipasang

massa dari Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Dolly menghadang petugas yang akan memasang plakat di Dolly, Jumat (25/7/2014). avit hidayat/enciety.co
massa dari Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Dolly menghadang petugas yang akan memasang plakat di Dolly, Jumat (25/7/2014). avit hidayat/enciety.co

Rencana Pemerintah Kota Surabaya memasang plakat Kawasan Bebas Prostitusi pada Jumat (25/7/2014) siang, di eks lokalisasi Dolly batal dilakukan. Ini setelah sekelompok massa dari Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Dolly tiba-tiba bertindak anarkis dan memaksa petugas untuk menghentikan pemasangan.

Sebelumnya, sejak pukul 09.00 WIB Pemkot melalui Dinas Sosial, Satpol PP, dan dibantu Koramil, serta Polsek Sawahan sudah standby mempersiapkan plakat.

Dari pantauan enciety.co, suasana juga masih kondusif dan aman. Namun pada pukul 11.00, saat petugas hendak melakukan pemasangan plakat di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, tiba-tiba puluhan massa dari FPL mendatangi petugas pemasang plakat. Kericuhan pun tidak terelakan.

Akibatnya antara petugas gabungan dengan anggota FPL saling dorong-mendorong. FPL berupaya menghentikan proses pemasangan plakat di kawasan tersebut. “Kami keberatan dengan sikap Pemkot yang bertindak semaunya. Apalagi Pemkot belum melakukan koordinasi dengan kami. Kami menolak penutupan Dolly,” tegas Koordinator Lapangan FPL Surabaya Apeng kepada awak media.

Karena terus mendesak petugas, akhirnya pemasangan urung dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Truk pengangkut plakat diusir oleh FPL dari kawasan tersebut. Beberapa alat seperti semen, pasir, dan juga diboyong pergi dari kawasan eks lokalisasi tersebut.

Sementara petugas gabungan terlihat berhamburan pergi lantaran FPL semakin emosi. Bahkan dalam kesempatan itu, FPL tidak saja mengusir petugas pemasang plakat, namun sempat meluruk kantor Kelurahan Putat Jaya untuk menemui lurahnya.

Kepada Lurah Putat Jaya Bambang Hartono, mereka tidak terima dengan sikap Pemkot yang tidak adil. “Kami mau makan apa kalau Dolly ditutup. Realitasnya biaya kompensasi tidak pernah kami terima. Justru pelaku dari luar Dolly yang menerima uang kompensasi,” teriak Apeng.

Koordinator Satpol PP Surabaya Denny C menjelaskan, pihaknya hanya merealisasikan program penutupan Dolly. Satu di antaranya dengan menancapkan plakat Putat Jaya bebas dari kawasan prostitusi.

“Kami tidak ingin, suasana menjadi kacau. Jadi kami urungkan dulu. Warga juga tampak emosi. Niat pemkot baik. Agar kawasan ini bebas dari prostitusi,” tandasnya.

Di sisi lain, Lurah Putat Jaya Bambang Hartono menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa berbuat banyak kepada warganya. “Ini program Pemkot Surabaya. Kalau tidak terima dengan penutupan dan pemasangan plakat jangan mengadu pada kami, karena kami hanya menjalankan tugas,” imbaunya kepada FPL.

Selepas itu massa kemudian bubar setelah memastikan bahwa pemasangan plakat urung dilakukan. “Setelah Lebaran nanti, tepatnya tanggal 2 Agustus kami akan buka praktik seperti biasa,” ancam Apeng. (wh)