Digagas Pembetukan Asosiasi Biro Perjalanan Haji Jatim

 

Digagas Pembetukan Asosiasi Biro Perjalanan Haji Jatim
Jamaah haji di Asrama Haji Sukolilo yang sebagain besar menggunakan jasa biro perjalanan haji.

Prospek bisnis biro perjalanan ibadah umroh yang mengalami peningkatan tidak diimbangi dengan keberadaan asosiasi. Dimana setiap biro jasa memiliki iming-iming untuk menjual produk guna menarik calon jamaah. Pada sisi lain, kebanyakan sesama biro perjalanan atau travel kerap saling menjatuhkan.

Hal ini yang kemudian berdampak buruk bagi jamaah umroh saat melakoni ibadah di Tanah Suci. Kebanyakan jamaah kecewa dengan sistem pelayanan dan harga yang telah diajukan sebelumnya, ketika sedang menjalankan ibadah.

Fauzi Mahendra, CEO PT Isbir Tour and Travel, biro perjalanan haji dan umroh berencana meresmikan asosiasi biro jasa umroh. Wadah ini nantinya untuk menampung seluruh aspirasi, sekaligus sosialisasi antar biro perjalanan atau travel. “Gunanya agar tidak saling jegal dan sama-sama saling mendukung,” ungkapnya saat dijumpai di Surabaya, Sabtu (30/8) sore.

Fauzi menyebut asosiasi yang diharapkan bisa menampung aspirasi itu dalah Asosasi Wilayah Jatim Umroh dan Haji (Aswaja). “Insya Allah akan kita bentuk pada Oktober nanti, sekaligus kita gelar pameran biro wisata umroh dan haji di Surabaya,” lanjutnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Agama (Kemenag) hingga Agustus ini jamaah umroh mencapai 800.000, dimana sekitar 700.000 jamaah berasal dari Jatim. Mahendra menyebut potensi adanya gesekan antar biro perjalanan cukup tinggi, mengingat jumlah calon jamaah yang dipastikan membengkak.

Dari angka tersebut tidak diketahui nilai transaksi, sebab pihak biro perjalanan memiliki standarisasi dan harga tersendiri. “Sulit untuk menghitung, meskipun kita pukul rata. Sebab didalamnya ada kelas-kelas, seperti ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Demikian juga sistem kerjasama dengan bank berbeda-beda,” tegasnya.

Menurut Fauzi, wisata umroh saat ini lebih diminati calon jamaah. Sebab untuk berangkat ibadah umroh hanya butuh waktu 2-3 tahun, sedang ibadah haji dibutuhkan waktu antara 16-21 tahun. Hal ini yang menyebabkan banyak muslim yang mengalihkan ibadah haji ke umroh.

Terutama pada bulan Ramadan, Rabiul Awal (maulid Nabi), dan libur sekolah, jumlahnya bisa membengkak. “Kalau dihitung, kenaikannya bisa 30 persen lebih banyak dibanding reguler. Itu rata-rata, bahkan ditempat kami bisa empat kali pemberangkatan,” terangnya.

Isbir sendiri setiap bulannya memberangkatkan rata-rata 100 jamaah, dari minimal 3 kloter. Pada tahun 2013 lalu, Isbir memberangkatkan 1.100 jamaah, dan tahun ini sudah tercapai 1.370. Sedangkan tahun 2015 dihrapkan bisa mendapatkan sekitar 2.500-an jamaah umroh. (wh)