Didi Kempot dan Nasi Empal Terenak Se-Asia Tenggara

Didi Kempot dan Nasi Empal Terenak Se-Asia Tenggara

Didi Kempot, foto: KapanLagi.com

Saya tersenyum ada julukan ini: Bapak Patah Hati Nasional. Disematkan kepada Didi Kempot. Penyanyi campursari asal Solo. Bahkan sempat trending topic di Twitter, beberapa hari.

Nama Didi Kempot alias Didi Prasetyo tiba-tiba nge-hits. Pascasurutnya pergunjingan soal pilpres. Entah siapa yang meletupkan. Bagi saya tidak kelewat penting. Yang penting, perhatian publik pun tercurah pada pria yang acap menguncir rambut gondrongnya itu.

Saya kenal Didi Kempot kisaran tahun 2000-an. Saat itu, saya masih membantu UPTD Balai Pemuda bikin event musik. Mayoritas pengisi acaranya artis-artis lawas. Dari genre rock, ada Achmad Albar, Ian Antono, Ucok AKA Harahap, Arthur Kaunang. Grup band legendaris yang pernah tampil, Panbers, D’lloyd, The Gembel’s, Usman Bersaudara, De Hands. Juga deretan penyanyi senior seperti Mus Mulyadi, Ebit G Ade, Mus Mujiono, Arie Kusmiran, Dian Pieshesa, Meriam Bellina, Utha Likumahuwa, Tri Utami, dan masih banyak lagi.

Dari kalangan penyanyi campursari, Didik Kempot paling sering tampil di Balai Pemuda. Selain dia, ada juga penyanyi seperti Sony Josz, Cak Diqin, dan Ratna Listy.

Didi Kempot tergolong artis yang gak rewel. Pembicaraan terkait honor pun gak pernah ruwet. Pernah, suatu ketika, dia datang menemui Kepala UPTD Balai Pemuda Nirwana Juda. Pakai kaus oblong dengan blangkon. Juda kaget. Sebab, biasanya dia selalu menyiapkan orang untuk menjemputnya. Tapi Didi Kempot merasa gak perlu. Duduk sambil minum kopi sudah cukup nikmat bagi dia.

Didi Kempot bisa dibilang a simple kind of man, lelaki yang sederhana. Barangkali pengalaman pahit hidupnya sebagai pengamen membuat dirinya lebih memilih tak perlu ribet dalam urusan duniawi.

Di setiap show, dia gak pernah minta jamuan macam-macam. Apa pun yang disajikan pasti disantapnya. Pisang goreng, telo, pohong, tahu isi, ote-ote, dan makanan tradisional lain gak pernah nolak. Saya masih ingat, sebelum manggung, saya sodori dia nasi empal. Saya bilang kalau nasi empal ini spesial.

Iki paleng enak sak Asia Tengggara. (Ini paling enak se-Asia Tenggara, red),” goda saya.

“Sing temen, Mas (Yang benar, Mas)?” Didi Kempot penasaran seraya bergegas mencicipinya.

Wih, enak pancen. Tuku nang di? (Benar, enak. Beli di mana?, Red).” Saya hanya tersenyum, lalu bilang gak jauh dari Balai Pemuda.

Malam hari, usai konser, saya menawari Didi Kempot makan nasi pecel Jalan Kenjeran. Baru saya bilang nasi pecel ini spesial, Didi Kempot langsung menyela,” Iki sing paleng enak sak Asia Tenggara sisan (ini juga paling enak Se-Asia Tenggara juga, Red).” Dan, kami pun ngakak bareng.

Didi Kempot dan Nasi Empal Terenak Se-Asia Tenggara
Didi Kempot, foto: Tribunnews.com

Sikap ramah Didi Kempot juga saya lihat dari banyaknya seniman Surabaya yang datang menemuinya. Kebanyakan dari pelawak Srimulat. Bambang Gentolet (kini sudah almarhum), Cak Sidik (kini sudah almarhum), Eko Londho Tralala,  Cak Momon, dan masih banyak lagi. Kalaitu, saya baru tahu kalau Didi Kempot adik Mamiek Prakoso alias Mamiek Srimulat (kini sudah almarhum).

Di usianya ke-53, nama Didi Kempot tiba-tiba menjulang. Karirnya sebagai penyanyi campursari mendapat apresiasi banyak orang. Senandung lara yang tecermin dari tembang-tembang yang dibawakannya seolah menyentuh ruang publik. Kesedihan yang tak perlu diratapi. Putus cinta yang cukup diatasi dengan berdendang ria.

Di tengah sanjungan dan apresiasi, Didi Kempot tak terlihat jumawa. Sosok dia masih seperti dulu: humble, tabah, murah hati, dan sedikit mellow.

Bagi saya, Didi Kempot bukan cuma pantas menyandang gelar the godfather of broken heart. Tapi dia mampu menjadi represensi penyanyi yang tak lekang oleh zaman. (wh)