Dibayangi Over Supply, Harga Minyak Melemah

 

AS Perbanyak Produksi, Harga Minyak Makin  Terjerembab
AS Perbanyak Produksi, Harga Minyak Makin Terjerembab

Harga minyak turun lebih dari tiga persen di awal pekan seiring bursa saham China melemah. Ditambah produksi minyak mentah di Laut Utara menambah kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan minyak global.

Harga minyak kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Oktober melemah USD 1,98 menjadi USD 47,76 per barel. Pelemahan itu tercatat sekitar 3,73 persen. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) susut USD 1,8 menjadi USD 44,25 per barel. Volume perdagangan pun cenderung tipis mengingat ada libur hari buruh AS.

Bursa saham China menjadi salah satu sentimen yang mempengaruhi harga minyak. Indeks saham China ditutup melemah setelah investor cenderung melakukan aksi jual setelah liburan empat hari.”Harga minyak hanya mengambil isyarat dari China,” ujar Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (8/9/2015).

Ia menambahkan, harga minyak juga dipengaruhi data konstruksi dan bursa saham Eropa menguat ditambah harga komoditas logam serta hasil rig AS. Selain itu, pasokan minyak juga akan bertambah dalam jangka pendek terutama produksi minyak dari Laut Utara.

Produksi minyak mentah akan naik ke level tertinggi pada Oktober, dan menambah pasokan di Atlantic Basin.Meski produksi melonjak, harga minyak tertekan ini telah membuat pemangkasan tenaga kerja lebih dari 5.000 tenaga kerja di sektor minyak dan gas di Laut Utara Inggris sejak akhir tahun lalu.

Sementara itu, Arab Saudi pun tetap mempertahankan produksi minyak sekitar 10,2 juta-10,3 juta barel per hari ini mendekati rekor musim panas tertinggi pada kuartal IV. “Fokusnya kembali bergeser pada pasokan lebih tinggi,” kata Analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Sebelumnya harga minyak telah jatuh hampir 60 persen sejak Juni 2014 lantaran pasokan minyak berlebih. Akan tetapi, sentimen kekhawatiran ekonomi China melambat berdampak ke harga minyak. Ditambah gejolak bursa saham global.”Untuk komoditas, salah satu kuncinya yaitu permintaan dengan tidak peduli pertumbuhan ekonomi China sebesar tujuh persen bukan 9 persen, dan 10 persen. Saat ini ada indeks manufaktur yang telah jatuh minimal selama lebih dari 40 bulan berturut-turut,” tulis JBC Energy.  (lp6)