Di Mata Najwa, Risma Ngaku Sering Blusukan ke Diskotek

 

Di Mata Najwa, Risma Ngaku Sering Blusukan ke Diskotek

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini kembali diundang oleh program reality Show, Mata Najwa. Dalam acara yang dipandu oleh presenter yang dikenal kritis, Najwa Sihab itu Risma mengaku sering blusukan ke Diskotek untuk mencari anak-anak.

Kepada Najwa, Risma menceritakan bahwa di Surabaya telah memiliki protap yang melarang anak-anak masuk diskotek terhitung di atas jam 12.00 malam pada hari Sabtu dan Minggu.

“Dulu saya sering masuk diskotek. sebelum jam 12.00 saya susun rencana dengan Satpol PP. Awalnya mereka (Satpol PP) saya suruh masuk dulu, tapi dilarang oleh petugas keamanannya. Saya langsung turun dan masuk, saya ancam akan tutup,” tegasnya.

Karena takut, akhirnya Risma dan petugas Satpol PP diperbolehkan masuk untuk melakukan razia. Risma mengaku sering menemukan banyak anak-anak yang masuk diskotek.

“Protapnya setelah ketemu si anak yang ke diskotek, orang tua dan dari pihak sekolah saya panggil. Sekarang anak Surabaya sudah tidak berani lagi,” ujarnya.

Selain mengaku sering masuk diskotek, kepada Najwa Risma juga mengaku memiliki hobi membersihkan got. “Hobi saya? bersihkan got. apa lagi hobinya ya itu saja,” katanya lalu tertawa.

Diundang sebagai satu dari tiga pembicara itu, Risma juga tidak hal yang ringan-ringan. Kemajuan dan teknologi yang dicapai Surabaya pun dibeberkan oleh Wali Kota perempuan pertama di Surabaya itu. Satu di antaranya program e-suratnya yang terus ia gunakan untuk membantunya bekerja.

“Saya sudah jarang lagi rapat, saya membaca surat lewat i-pad. Semua dokumen masuk lewat sini, semua bisa saya baca dan langsung saya disposisikan ke SKPD terkait dan lebih cepat. Disposisi bisa di sini. Meski sekrang saya di mata Najwa tapi masih bisa bekerja di Surabaya. Yang membuat ini anak-anak kita sendiri di SUrabaya,” bebernya.

Sebagai satu di antara presenter terbaik yang dimiliki Metro TV, Najwa Sihab juga bertanya beberapa hal tentang seringnya Risma blusukan dan membantu warganya yang miskin. “Kenapa Bu Risma suka blusukan masuk kampung-kampung dan mencari orang-orang miskin dan sakit?” tanya Najwa.

“Saya bayangkan kalau seandainya saya seperti mereka dan tidak ada orang lain yang menolong, saya bisa marah sekali karena itu. Kemudian mereka menelantarkan saya. Suatu saat saya datang di rumah ibu-ibu sakit yang hidup dengan anaknya. Ibunya nggak mau kemana-mana dia tidur saja. Anaknyna yang masak dan mandiin ibunya. Puskesmas datang dan saya ngabari tapi ibunya nggak mau diajak ke rumah sakit, katanya siapa nanti yang mengurus anaknya,” cerita Risma.

Tidak habis akal Risma mengaku membawa ibu dan anak itu ke rumah sakit sekaligus. Setiap hari anaknya diantar sekolah menggunakan ambulance oleh Pemkot Surabaya. “Saya opname dua-duanya sama anaknya. tiap hari anaknya dianter pake ambulans setiap hari,” akunya.

Dalam sesi itu, Najwa juga menggelitik Risma soal UU Pilkada pemilihan lewat DPRD disahkan apakah akan membuat Risma maju lagi sebagai Wali Kota Surabaya pada 2015 mendatang, Risma menjawab dengan tegas, “Nggak, nggak,” Risma sembari geleng-geleng.

Menurut Risma, pihaknya dapat bekerja dana mengetahui permasalahan Surabaya itu lantaran dirinya sering terjun ke masyarakat. “Terus terang ini baru periode pertama, saya nggak tau dulu juga. Masalahnya pertanggung jawaban kita bukan hanya di dunia. Waktu turun (kampanye) kita kan musti minta masukan ke rakyat. janji itu kepada siapa kalau tidak ada hubungan langsung antara yang pilih dan dipilih?” imbuhnya.

Menurut Risma policy itu berjalan lantaa pengalamannya bersentuhan dengan rakyat secara langsung. Artinya, program sekolah gratis dan lain sebagainya adalah hasilnya melakukan penjajakan di lapangan secara langsung. “Saya belum bisa bayangkan,” tegasnya. (wh)