Desainer Jatim Hanya Mikir Karya, Belum Minat Pasar

Desainer Jatim Hanya Mikir Karya, Belum Minat Pasar

Tren mode terus berkembang belakangan ini disikapi para desainer yang tergabung di Badan Pengurus Daerah Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (BPD APPMI) Jatim.

Ketua BPD APPMI Jatim Denny Djuwardi mengatakan, perkembangan dunia fashion Jatim memang belum sehebat Jakarta dan Jabar. Sebab, masih banyak desainer yang hanya memikirkan karyanya tanpa melihat minat pasar. “Ini yang coba kita ubah dengan merekrut anggota baru,” katanya, Rabu (19/3/2013).

Dengan enam anggota baru tersebut diharapkan Jatim bisa menjadi pusat fashion dunia. Maklum, selama ini Jakarta dan Bandung yang menjadi pusat fashion di Indonesia. “Penyebab utama ketertinggalan itu lantaran para desainer Jatim tidak melihat keinginan pasar,” ujarnya.

Sebelumnya, selama tujuh tahun, hanya beranggotakan 12 anggota, kini ada enam anggota baru dari para desainer muda. Mereka adalah Hanaika, Sheila Andini, Kharis Kirani, Lita Berlianti, Jenite Teorawa.
 
Denny menambahkan, banyak para desainer Jawa Timur yang beranggapan bahwa karya-karya avant garde di atas catwalk yang bisa dipamerkan. Akibatnya, karya-karya desainer tidak bisa dipakai untuk sehari-hari. “Karya desainer seperti itu hanya untuk dipajang dan tidak bisa diproduksi massal,” jelasnya.

Menurut dia, bila tidak mau ditinggal masyarakat, para desainer Jatim harus mampu memproduksi busana ready to wear. “Padahal yang namanya fashion itu harus bisa dijadikan tren dan bisa dipakai oleh masyarakat umum,” ujar Denny.

Oleh karena itu, dia, tak sembarangan memilih desainer yang bergabung dalam APPMI. Minimal jam terbang anggota APPMI yakni harus eksis dalam dunia fashion selama tiga tahun dan harus mengikuti show Indonesia Fashion Weeks (IFW).(wh)