Desainer Ian Adrian Tampilkan Tenun Cantik Buton

Desainer Ian Adrian Tampilkan Tenun Cantik Buton

Cantik dengan corak dan warna menarik. Itulah tenun asal Buton, Sulawesi Tenggara Tenun ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14, bisa dilihat dari artefak sejarah. Namanya, kampua, jenis tenun yang menjadi alat mata uang pada masa itu hingga tahun 1951.

Desainer Ian Adrian mengungkapkan, keunikan tenun Buton, tidak hanya terletak pada corak dan warnanya saja, tapi fungsinya sebagai media pelekat hubungan sosial bagi masyarakat Buton.

“Sebagai desainer, tanggung jawab saya memajukan fashion di Indonesia, khususnya menggali dan mengembangkan budaya Indonesia yang sangat kental akan nuasa tradisi,” kata Ian yang dalam pengembangan tenun Buton didukung oleh bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun,SH.

Ia mengaku, mengambil inspirasi kain tenunan buton dengan warna merah, kuning, biru, dan ungu dipercantik dengan bahan lace, silk, payet,tulle, chiffon, juga bordiran. Renda dan ornamen menambah cantik tampilan busana ini. Teknik jahit dipakai, smok, patchwork, opnesel juga plisket.

Kain tenun Buton berikut aksesoris mutiara dalam bahasa buton disebut mabe, dari para pengrajin Buton.”Busana ini saya beri nama Buton Makesa, artinya Buton yang  cantik,” kata Ian yang pernah show tunggal di kereta api wisata jurusan Jakarta-Bogor (Stasiun Juanda) pada 2005.

Ian Adrian pernah meraih piagam dari MURI (Musium Rekor  Indonesia) pada 2005 dengan tema fashion show Enticing & Dramatic City dan show tunggal kedua pada 2006 di lembaga pemasyarakatan tema From Prison With Love. Pada 2008, ia menggelar show tema Ulun Bungas di Pasar Terapung, Banjarmasin dan juga mendapat penghargaan MURI (Musium Rekor Indonesia).

Pada tahun 1996 Ian Adrian memenangkan IYDC (Indonesia Young Designer Contest) sebagai juara favorit, maka sejak itu Ian menjadi desainer hingga kini.

Desainnya cukup dikenal dan digemari oleh para pelanggan dan banyak membuat baju untuk teman-teman artis. Ian belajar banyak pada desainer senior, seperti Harry Dharsono, Musa Widiatmojo, atau Adrianto Halim.(tempo/wh)